Berikut wawancara Rio Helmi dengan vulkanalog PVMBG di Rendang, Bpk Devy Kamil Syahbana pagi hari tgl 24 Oktober 2017

RH: Menurut Pak Devy bagaimana situasinya sekarang? Ini kan masih status AWAS?

DKS: Ya memang dari tanggal 20 aktivitas gempa turun. Turunnya gempa ini belum bisa kita sikapi. Karena dia trendnya masih pendek dan belum bisa ada kesimpulannya. Kami akan tunggu dua hari lagi lalu masukkan semua data dalam semacam siimulasi, dilihat bukan hanya dari kegempaan tapi macam-macam, segala aspek. Namun biarpun berkurang, radiusnya tidak akan jauh berbeda sama yang dulu.

RH: Turun ke level 3? (siaga)

DKS: Oh, biar turun ke level 3 pun kita harus mengacu juga ke tahun 1963. Waktu ’63, pada hari satu dan kedua 8 km itu kena. Tapi kita belum tahu ini turun ke 3 atau enggak. Kita harus tunggu data hari ini dan besok, dan lihat dulu hasilnya setelah semua data masuk ke yang disebut ‘event tree’. Baru setelah ‘event tree’ di analisa oleh yang ahli (specialis) bisa diketahui apakah bahayanya berkurang atau enggak.

RH: Event tree itu simulasi komputer?

DKS: Begini, event tree itu sudah dipakai di (seluruh) dunia. Ada juga ‘paper’nya. Itu kan unutk membantu kita unutk mengambil keputusan. Salah satunya adalah untuk menentukan VEI (Volcanic Explosivity Index)nya berapa dengan kondisi data sekarang. Itu harus ada ahlinya yang menganalisa. Umpamanya dari seismologi sudah terlihat relatif stabil, tapi factor-faktor lain harus diperhitungkan. Nah dari situ keluar angka yang merupaka sekian persen kemungkinan untuk terjadi erupsi umpamanya. Juga nanti bisa diperkirakan da;lam kondisi seperti ini dia ‘ramp-up’nya (kebangkitan kekuatan) sampai meletus itu ada waktunya. Nah kalau untuk itu kita juga melihat yang sebelumnya. Waktu dari 2 ke 3 (siaga) itu kurang lebih empat sampai delapan hari. Kalau kita lihat dari segala aspek aktifitasnya turun, nah kalau sudah kita turunkan kita kan harus melihat luas areanya. Kalau melihat luas areanya kita juga harus lihat karakter gunungnya. Kalau Agung kita sudah punya daftar timelinenya (urutan dan jangka waktu kejadian). Kalaupun kita turunkan ke Siaga, itu tidak berarti bahwa dia tidak akan meletus, ini hanya mengenai persentase kemungkinan dia akan meletus atau tidak. kalau Siaga hanya berarti bahwa kemungkinannya lebih rendah (bukan tidak mungkin sama sekali). Nah kalau potensinya bahayanya juga berubah, namun potensi bahayanya harus sesuai dengan karakter gunungnya sendiri. Kalau tahun 1963, saat itu dalam satu hari satu set komplit tipe-tipe bahaya (vulkanik) terjadi.

RH: Dalam satu hari saja?

DKS: Jadi pada tanggal 19 Februari dia meletus, dan di hari yang sama dia sudah mengeluarkan awan panas. Dia tidak ada phreatic onset sebetulnya. Ada letusan pembuka, dan itu disebut ‘letusan kecil’. Tap letusan kecilnya dia disebur kecil dibandingkan apa? Nah itu dibandingkannya dengan (potensi) dirinya sendiri. Padahal kalau dibandingkan dengan letusan lain dia itu lebih besar, VEI 3. VEI 3 itu lebih besar dibanding letusan Sinabung yang terbesar. Jadi kita harus berangkat dari potensi Agung sendiri. Nah kalau semua hal seperti itu sudah tertulis dala pertimbangan (dlm event tree) beserta bukti-buktinya, nah baru. Umpamanya Agung radiusnya turun ke 8 km, orang (awam) melihat bilangnya: “lho ini kan jumlahnya kan sama dengan Waspada?” Tapi dia tidak sadar bahwa dulu waktu kondisinya dinaikkan ke Waspada volume magma masih belum banyak. Tapi ketika dia sudah naik ke Awas itu karena banyak gempanya, tapi juga sekarang volume magmanya diperkirakan 18,5 juta meter kubik yang ada di perut Gunung Agung. Ini sudah jadi ‘gemuk’. Artinya meski jumlah gempa berkurang, jangan lupa bahwa gunung sudah ‘gendut’. Buktinya vertical upliftnya (naiknya ketinggian gunung karena tekanan) sudah 6cm! Jadi walaupun kegempaan menurut, kita jangan menyamakan seperti kondisi dulu saat baru dinaikkan ke level Waspada. Kalau dulu belum influx magma, masih di bawah, sekarang sudah masuk.

RH: Dan itu sudah 4 km di bawah kawah, betul?

DKS: Ya. nah makanya kita bikin beberapa scenario (memperhitungkan segala factor).

RH: Banyak tekanan rupanya untuk menurunkan status? Padahal saya yakin pasti ada pertimbangan-pertimbangan penting mengapa PVMBG tidak menurunkan statusnya.

DKS: Ya kami tidak punya motivasi lain (kecuali sesuai hasil observasi).

RH: Terima kasih waktunya.

 

teks dan foto ©Rio Helmi