Tjok Raka Kerthyasa, anggota keluarga besar Puri Ubud, sudah bertahun-tahun menjabat sebagai bendesa adat Ubud, dan kini juga duduk sebagai anggota DPRD. Beserta istrinya Jero Asri, mereka mempunyai tiga anak dan tiga cucu. Keluarga ini pernah tinggal di Sydney beberapa tahun sebelum balik ke Bali. Pada tahun 70an Tjok dan Jero Asri termasuk hanya segelintir orang yang menerima tamu asing di home stay mereka, Tjetjak Inn, yang kini sudah menjelma menjadi Hotel Ibah.

Rio Helmi: Bagaimana perasaan Cok melihat perkembangan khususnya katakanlah pergesekan atau pertemuan antara expat dan kebudayaan Bali yang ada di Ubud. Apa yang jadi menjadi menonjol?
Tjok Raka Kerthyasa: Ya, saya kira, se-hari2, kalau kita retrospeksi, dulu kan seperti menyatu dalam mengembangkan desa pariwisata, baik dengan seni dan budaya, dan juga kita diberi banyak input, ide2, sehingga tidak menyimpang dari norma2 yang ada disini, Jadi secara objective karena expat ini mengagumi budaya dan juga, mereka inginnya mencari yang sebenarnya, yang asli, yang sesungguhnya. Sehingga disanalah terjadi interaksi, ide2 didalam menginovasi yang tidak menyimpang dari norma2 tradisinya dan juga bisa memberikan manfaat ekonomi terhadap masyarakat.

RH: Sekarang?

TRK: Sekarang kelihatannya sudah agak jauh karena kondisi sekarang seperti…. di masyarakat sudah seperti berjalan sendiri sendiri sekarang. Kecuali yang sifatnya masih terkait dengan desa pakraman, banjar atau parahyangan dari kelompok kelompok sendiri. Tetapi secara inovasi dan kreativitas itu sudah sangat liberal rasanya. Hingga mereka berjalan sendiri sendiri. Karena, waktu yang dulu, sering terjadi ngobrol ngobrol bersama, cari input input, strateginya bagaimana sehingga budaya itu terjaga lebih baik.

RH: spirit komunitas berubah, ya?

TRK: Karena system sudah berubah ya otomatis nilai spiritualnya juga berubah.

RH: Komunitas, sebagai komunitas yang utuh, yang integral, berarti sudah berubah juga dong?

TRK: Dalam konteks kewajiban masih -seperti di banjar, di pura, dan sebagainya. Dalam konteks kesadaran individual sekarang – sosial dan hubungan keakraban -sudah bergeser. Karena dulu kalau sifatnya koperatif, sekarang ke komplikatif. Jadi itulah juga yang bergeser, yang memberi dampak. Secara psikologis juga, karena komplikatif ini.

Untitled-1

 

 

Kiri: Tjok Raka dan Jero Asri saat menikah. Kanan: beserta anak dan cucu (foto keluarga)

RH: Tjok sendiri kan berada diantara dua dunia, kan memahami dunia barat, bahkan isteri barat, dan anak juga sudah mengalami kedua kultur dan sebagainya. Pertama, apakah itu ada menimbulkan konflik dalam kehidupan Cok, dan kedua, apakah itu, sebaliknya apakah itu justru memberi titik terang dimana kita bisa betul betul mejalani kedua hal ini, kehidupan sebagai orang Bali, kehidupan sebagai orang yang didunia internasional?

TRK: Ya, kedua sisi itu pasti ada. Karena anak-anak bisa melihatnya secara objektif dan menjadi personal. Jadi banyak juga input input secara positif didapatkan dari pendapat pendapat mereka – mengenai sikap mengenai keluarga, mengenai budaya, dsb. Namun dalam kesadaran toleransi, biasanya di Bali itu kan tidak ke personal jadinya, karena itu masalah kewajiban. Kalau pribadi, suka atau tidak suka itu kan tidak menjadi menentu. Tetapi existensi kehadiran di dalam kelompok itulah menentukan. Nah, ini kan juga memerlukan proses. Dan di Bali pun, karena system pendidikan sekarang anak anak Bali pun, saya juga harus banyak memberi pemahaman itu. Karena didalam menunjang sekuriti kehidupan mereka se-hari hari, mereka harus kerja keras. Dan apa yang mereka mendapatkan dari komunitas. Nah sekarang ini yang menjadi gejolak sesungguhnya. Sesama warganegara, apa yang didapatkan secara proteksi dari pemerintah.

RH: Apa yang mereka sumbangkan, apa yang mereka dapatkan?

TRK: Nah, ini kan hukum manusia, hukum alamlah. Yang namanya mengimbangkan inilah sesungguhnya diperlukan …

RH: Tetapi kalau sekarang, generasi muda yang kita lihat di desa, bahkan di kota bisa, di desa pun juga, kelihatan generasi muda ini mulai kelihatan ada seperti ada rasa kekecewaan yang dalam, mereka itu merasa seolah-olah dikesampingkan. Apakah benar itu? Kan banyak yang suka mabuk sekarang, yang suka minum…

TRK: Ya, itu kan ndak bisa dari satu dua orang kita ambil, karena saya di dalam pratek kegiatan budaya ini, kan sering melihat bagaimana sikap mereka sesungguhnya. Saat mereka dibutuhkan oleh community, mereka masih tetap menghormatilah. Itu ya masalah mereka mabuk, di luar itu kan masuk lagi terkait dari kondisi rumah tangga, pergaulan – ya, pribadi sifatnya. Dalam konteks komunal masih, mereka masih kuatlah toleransinya dalam menjaga budayanya. Nah, yang bergeser sekarang, nilai budaya itu sendiri, karena sekarang budaya itu sekarang nilainya udah bergeser, sebab yang menjadi focus sekarang kebanyakan ke materi jadinya. Apa yang didapatkan oleh masyarakat..

RH: Ada kecewaan bahwa mereka yang anak petani umpanya, mereka tidak punya kesempatan yang sama seperti anak pengusaha, contohnya. Sedangkan hidup petani itu murat marit sekarang

TRK: Betul. Makanya teknik strategi di bidang kegiatan kegiatan adat budaya itu, beberapa daerah, bahkan kita juga di Ubud, sudah juga mau merubah sistem sistem sehingga pemerataan itu menjadi lebih realitas terhadap warga-warga yang kemampuan ekonomi rendah

RH: Dengan cara bagaimana? Disesuaikan?

TRK: Ya, yang terendah kita pakai, artinya yang lebih beruntung dan mempunyai rejeki, disinilah mereka akan diuji, apa mau ikut membantu yang miskin untuk melengkapi.

RH: Jadi secara progressif? Karena memang dulu ada keluhan dari banyak orang, kok diberatkan, dsb…

TRK: Ya, betul itu. Sekarang saya sudah rubah, dimana ada odalan yang sifatnya besar, sistem ini saya harus perkenalkan kepada mereka dan menyampaikan bahwa upacara besar itu bukanlah sebuah keharusan yang sifatnya memberatkan. Bahwa itu adalah dasar bhakti yang tidak membebani warganya sendiri secara berlebihan.

RH: Tapi, dari sisi pemuda itu, mereka kan generasi penerus, apakah ada yang mereka harus lakukan nanti, untuk kedepan? Kita tak mungkin kan mempertahankan format yang persis sama terus terusan, padahal kalau kita lihat, walaupun bentuk luarnya sama tapi spiritnya tidak ada…..

TRK: ….Sama dengan tidak ada. Festival aja; makanya kalau kita di Ubud, setiap tiga tahun kita evaluasi yang mana disana terlibat para mantan prejuru termasuk muda mudi. Dan sebagai anggota dewan DPRD sekarang bahkan saya hampir ke semua muda mudi saya tanya jawab. Mereka ikut memberikan kontribusi pemikiran dari program-program pemerintah.

RH: Respon mereka bagaimana?

TRK: Wah, bagus-bagus sekali! Yang nanti saya pakai bahan riset dan input argumentasi di DPR. Kalau di desa-desa ada yang takut mungkin menyampaikan, karena nanti dipikir mengkritik pemerintah. Bahkan, saya buka, harus berani!

RH: masih ada trauma-trauma dari zaman dulu?

TRK: Ya, trauma-trauma masih ada. Sehingga dalam adat budaya itu pun, anak-anak harus lebih terbuka. Didalam mengkritisi, maupun menginovasi di dalam sistem sistem yang ada.

_DSF9642

RH: Bagaimana kalau dari segi adat, kalau kita lompat kembali mengenai hotel-hotel tadi, mungkin Tjok bisa sebagai bendesa, yang kejadian kejadian seperti di Pura Dalem Puri (dimana ada hotel yang dibangun persis di depan tempat kremasi), apakah kedepan tidak hal hal seperti ini tidak bisa dihindari, bagaimana, atau apakah kita sudah terlanjur.. bagaimana?

TRK: Kalau terlanjur salah kan harus diperbaiki. Kan begitu. Karena kalau salah ya mesti diperbaiki kedepan, supaya tidak salah lagi. Nah bagaimana caranya memperbaiki, ini kan, tidak bisa dari satu dua orang atau kelompok ?? Ini harus kesadaran bersama dari pelaksana pemerintah, dari pembuat aturan dan juga dari masyarakat. Agak lemah statusnya karena sering terjadi mereka itu mencari persetujuan masyarakat. Kalau sudah ada…

RH: Maaf, mereka, maksudnya? Pengusaha?

TRK: Pengusaha di saat mencari izin, kalau sudah itu masyarakat menyetujui, keluarlah izin, makanya didalam kasus pengusutan ini saya sampai termasuk di Dalam Puri juga. Tidak bisa kesepakatan masyarakat dipakai pertanggungan jawab pengeluaran izin. Yang tahu peraturan adalah pemerintah, masyarakat tidak tahu semua aturan yang ada. Nah sekarang kalau terus mencari pembenaran ke masyarakat saja, ringan mendapatkan tanda tangan dsb, apa lagi jaman sekarang, uang yang bicara, masyarakat yang tidak tahu itu, ya berarti jadi dia tinggal neken saja. Jadi yang tahu aturan adalah pemerintah. Bahkan kalau masyarakat salah, pemerintah harus memberi tahu.

 

foto ©Rio Helmi kelcuali foto keluarga.