Baru-baru ini, Gede Robi dari Navicula menyempatkan diri di sela-sela jadwalnya yang amat padat untuk wawancara dengan Rio Helmi / Ubud Now and Then. Berikut cuplikan dari wawancara tentang lingkungan hidup di Bali khusunya dan Indonesia umumnya tersebut:

RIO HELMI: Robi, masalah plastik sekali pakai kan sudah lama dipermasalahkan, bahkan piramid plastik di Munduk sudah puluhan tahun berdiri sebagai peringatan tentang bahaya polusi plastik sekaligus lambang upaya menangani masalah. Apa yang memicu Robi sekarang untuk membuat filem ini dan pergerakan ini?

 

ROBI NAVICULA:  Momentum. Sekarang waktunya saat penanganan sampah, khususnya sampah plastik, jadi isu prioritas. Baik di level masyarakat, pemerintah, hingga korporasi. Disamping akibat tekanan internasional, juga karena mencuatnya aib bahwa Indonesia tercatat sebagai negara terbesar kedua di dunia sebagai penyumbang sampah plastik ke lautan.

Saya percaya bahwa perubahan secara signifikan bisa terjadi apabila ada sinergis antara pemerintah, masyarakat, dan korporasi, serta didukung penuh oleh semua pihak seperti akademisi, institusi keagamaan, dan media.

Saat ini komponen-komponen ini ada di halaman yang sama.

Gede Robi saat shooting filem Pulau Plastik di Pura Lempuyang.

RH: Baru ini Robi road trip menyusuri Pulau Jawa bawa truk. Apakah situasi plastik lebih parah di Jawa atau di Bali? Kalau ada yang lebih menonjol kira-kira faktor apa menurut Anda yang membuatnya demikian?

 

RB: Truk itu simbol bahwa setiap 1 menit, Indonesia membocorkan sampah plastik sebanyak kira-kira seukuran 1 bak truk ke lautan.

Di Jawa produksi sampah plastik lebih banyak; pulaunya lebih besar, masyarakatnya cukup padat, dan industri produsen plastik juga berpusat di pulau ini. Kalau di Bali budaya penggunaan sampah kita tidak jauh berbeda, tetapi ditambah oleh industri Pariwisata dengan produksi sampah untuk pelayanan bagi wisatawan setiap harinya yang tidak kecil.

Demi menjaga pencitraan pulau Bali untuk industri pariwisata, kita cenderung menyembunyikan masalah sampah di pulau ini. Misalkan di Banjar Nyuh Kuning, Ubud tempat saya tinggal, sangat asri, bersih, pengangkutan sampah teratur, pembakaran sampah dilarang. Namun, kalau sampah kami berakhir di TPA, ini hanya memindahkan masalah, belum menyelesaikan masalah. Sampah Nyuh Kuning dan kebanyakan desa di Ubud berakhir di TPA Temesi (– tahun 2019 TPA Temesi berbulan-bulan mengalami kebakaran yang parah). Asap yang penuh dioxin ini meracuni kita semua. Ini wujud nyata dari “Instant Karmaphala’; apa yang kita lakukan akan kembali ke diri kita sendiri. Dengan plastik, bentuk nyata ini mengerikan, plastik yang kami buang ke alam, kembali ke diri kita dalam bentuk mikroplastik pada air minum dan dioxin pada udara yang kami hirup.

Situasi sampah di Bali dan Jawa (dan pulau-pulau lainnya) bukan lagi situasi lokal, tapi sudah menjadi situasi darurat di skala global karena sampah plastik ini mengalir ke lautan sehingga bukan hanya Indonesia yang diracuni, tetapi seluruh dunia mengalami dampaknya.

Perlu revolusi budaya dimana apa yang kita konsumsi harus kita pikirkan dimana produk ini akan berakhir, life-cycle setiap produk yang kita gunakan. Realitanya, produksi plastik meracuni di setiap tahap kehidupan produknya –

dari produksi menggunakan minyak bumi berpengaruh pada perubahan iklim. Pada penggunaannya, saat Phthalates dan plasticizer terserap pada makanan yang dibungkus palstik dan meracuni tubuh kita. Dan, pada pembuangannya, baik di daur ulang atau berakhir di TPA, ada banyak polusi juga yang terjadi.

Bali melakukan kemajuan yang sangat baik dengan melarang PSP (plastik sekali pakai), sebagai propinsi pertama di Indonesia yang punya peraturan seperti ini. Mulai dari “reduce”, kemudian dari sini baru kita kembangkan ke “reuse” dan yang terakhir “recycle”. Tapi saya percaya ini hanya bisa berhasil apabila semua elemen masyarakat ikut mendukung. Bergerak secara lokal saja dulu. Think global, act local.

Gede Robi ikut ambil sampel mikroplastic di Teluk Benoa

RH: Anda sering menguraikan nilai-nilai budaya tentang lingkungan dan kebudayaan yang tersirat dalam adat Bali. Lalu kalau di Jawa apakah adat-adat setempat khususnya terkait lingkungan terasa masih sekental di Bali?

 

RB:Saya percaya jika setiap tempat punya kebijakan lokalnya sendiri-sendiri. Mana yang lebih kental antara di Jawa dan Bali, saya tidak tahu pasti.

Saya lebih kenal dan paham Bali, karena saya tumbuh besar dan menetap di Bali. Dan saya memahami kekuatan adat sangat kuat dan berpengaruh di sini.

 

RH: Kini situasi perubahan iklim sudah di ambang ‘no return’. Kalimantan khususnya telah kehilangan hutan dalam jumlah yang mencengangkan. Anda pernah giat memperjuangkan keselamatan hutan. Menurut Anda apakah sudah ada kemajuan dalam pada ini di Indonesia, atau situasi makin parah? Bila ada kemajuan, apakah signifikan dan berdampak riil ke perubahan iklim?

 

RB: Sepertinya isu pelestarian hutan hujan masih belum menjadi prioritas di Indonesia. Yang saya lihat justru ekspansi pembukaan areal hutan utk tujuan perluasan area produksi seperti sawit dan tambang masih cukup masif. Bahkan menjadi semakin meluas, bukan hanya di Sumatera dan Kalimantan, tapi juga merambah pulau-pulau besar lain di Indonesia.

Di satu sisi, pemerintah saat ini berambisi besar mengejar pertumbuhan ekonomi, sementara di sisi lain, hal ini berjalan pararel dengan kerusakan lingkungan. Dampaknya ke perubahan iklim sudah jelas. Kita semua akhirnya paham bahwa deforestasi berpengaruh pada pemanasan global, dan kemudian berpengaruh pada kerusakan terumbu karang di lautan.

Bisa dibayangkan apa yang akan kita wariskan bagi masa depan, terkait kualitas lingkungan.

Saya pribadi, sebenarnya lebih suka jika yang seharusnya jadi prioritas negara kita adalah melindungi keanekaragaman hayati. Karena ini kekayaan Indonesia yang sebenarnya. Ini seharusnya juga bisa jadi “Nation Branding” Indonesia.

 

RH: Dengan adanya inisiatif untuk memindahkan Ibu Kota ke Palangkaraya, kira-kira dampak apa yg paling berbahaya yang bisa terjadi pada lingkungan disana?

 

RB: Rencananya saya dengar di Kutai (Kalimantan Timur). Bisa jadi meng-“copy” masalah yang ada di Jakarta dan mem-“paste”-nya ke Kutai. Sementara masalah yg di Jakarta akan tetap saja ada.

Memang Ibu kota baru ini digadang-gadang sebagai “Smart City”, tapi dimana-mana pembangunan berjalan pararel dengan kerusakan lingkungan.

Tapi bukan berarti kita tidak bisa membuat “sustainable development”. Desain-desain sutainable, asal ada kemauan, pasti ada jalan mewujudkannya.

 

RH; Anda punya latar belakang pendidikan agrikultur bukan? Kira-kira apa masalah terbesar di bidang pertanian di Bali yang berdampak negatif ke lingkungan? Dan kira- kira menurut Robi apa yang harus segera dilakukan?

 

RB: Budaya Bali aslinya terbentuk dari Budaya Pertanian. Coba cek isi Kalender Bali.

Jadi apabila kita ingin melestarikan budaya Bali, ya harus lestarikan juga budaya pertaniannya.

“Upacara“ di Bali, jangan sampai lupa pada “Etika” dan “Tattwa/Folosofi”-nya yang lekat dengan agrikultur.

Budaya pertanian yang ramah lingkungan sebenarnya juga bisa menjadi solusi-solusi dibidang lain, seperti pemanfaatan kompos olahan sampah domestik, isu kedaulatan pangan dan gizi di bidang kesehatan, nilai-nilai keanekaragaman hayati di sistem pendidikan, industri kreatif, pariwisata, dll.

Mengabaikan budaya pertanian berkelanjutan di Bali, akan sama saja dengan melestarikan budaya Bali yang semu. Atau dengan kata lain, melestarikan budaya Bali hanya untuk menyenangkan turis.

 

RH: Walau kini secara Resmi Gubernur Koster telah menolak Reklamasi Teluk Benoa, namun kenyataan di sekitar pelabuhan Benoa sudah banyak terjadi timbunan yang meluas dari ruas jalan akses ke pelabuhan. Ada komentar tentang itu?

 

RB: Setahu saya ada 3 projek reklamasi di Benoa. Proyek reklamasi perluasan pelabuhan milik Pelindo, Reklamasi bandara udara, dan rencana Reklamasi 700 hektar milik PT.TWBI yang gencar ditentang oleh kolaborasi ForBali dan Pasubayan Desa Adat. Saya hanya mengikuti update yang diperjuangkan oleh ForBali, karena tuntutan mereka jelas: Batalkan Perpres 51/ tahun 2014 dan menuntut diterbitkannya Perpres untuk mengukuhkan Teluk Benoa sebagai Kawasan Konservasi Maritim.

Teluk Benoa jadi dilema karena dijepit oleh kepentingan-kepentingan yang mengganggu fungsi penting teluk ini sebagai penyangga utama ekosistem laut dan pesisir sekitarnya.

Mungkin karena saking pentingnya kawasan ini, sehingga dijadikan kawasan suci dari dulu. Ini peran “kebijakan lokal” dalam merawat keseimbangan dan kesehatan ekosistem.

 

RH: Pengaruh musisi lumayan besar di Bali, terutama pada generasi muda. Anda pernah sebut bahwa sebetulnya banyak musisi lokal yang punya fan base cukup kuat di Bali. Apakah mereka terbuka untuk gandeng tangan dalam hal ingkungan hidup?

RB: Ya. Isu lingkungan sudah menjadi isu yang keren bagi kita semua, termasuk musisi. “Timing” yang pas untuk berkolaborasi adalah sekarang.

Terima kasih!

 

Semua foto disediakan oleh Gede Robi/Navicula dan hanya boleh dipakai seizin Gede Robi.

silahkan ‘scroll’  ke bawah untuk meninggalkan komen Anda di kotak komen