Pada tahun 1994, Rio Helmi dan pendiri lain dari Yayasan Wisnu yang orisinil yang saat ini sudah tidak beroperasi lagi, mengundang seorang anak muda Amerika untuk datang ke Bali dan magang di yayasan ini. Ternyata Olivier Pouillon orangnya cukup energetic dengan kepribadian meletup-letup bak petasan.  Kini, setelah dua puluh tahun berlalu, Olivier  sudah sedikit lebih melunak, dan masih berada di Bali. Dia menikahi seorang wanita Indonesia bernama Ita Budwati Candraningsih, menjalankan usaha pribadi miliknya CV Peduli Bali (dikenal juga sebagai Bali Recycling) dan hingga saat ini masih saja menghabiskan waktu main sampah. (terjemahan dari bhs Inggris)

 

 

Rio Helmi: Saat anda tiba di Bali pada tahun 1994 dan bergabung bersama Yayasan Wisnu, apakah anda pernah berpikir bahwa saat itu anda hanya sebentar saja disini untuk menjalankan program magang?

 

Olivier Pouillion: Saat itu saya pikir akan berada di Bali mungkin hanya sekitar 6 bulan atau maksimal selama 1 tahun. Mencari sebuah pengalaman, kembali pulang ke Amerika kemudian mencari pekerjaan pada yayasan nirlaba atau perusahaan yang peduli terhadap lingkungan. Hanya itu saja rencana awal saya saat itu.

 

Apa yang membuat anda tetap tinggal?

 

Kalian (dewan Wisnu) memberikan aku kendali LSM itu karena tampaknya saat itu yayasan sedang berada di ambang kehancuran atau pembubaran. Namun aku melihatnya sebagai sebuah kesempatan yang bagus, aku bisa mencoba melakukan apapun karena pada kenyataannya aku tidak akan menghancurkan LSM yang memang saat itu sudah mulai hancur. Ia akan tetap hancur atau bangkit dari abu, yg pada kenyataannya memang abu vulkanik. (Saat pertama kali aku tiba di  kantor, aku melihat bahwa ruangan kantor ditutupi  4 cm debu vulkanis dari letusan Gunung Batur……hahaha)

 

 Apa misi dan visi pribadi Anda? Apakah hanya satu dan sama dengan perusahaanmu? Apakah perusahaan hanya  merupakan bagian dari sebuah gambaran besar?

 

Visiku diarahkan oleh keyakinan/pemahaman bahwa kita semua beruntung bisa ada di dunia ini dan Bumi ini sebenarnya tak lebih suatu titik kecil dalam alam semesta, namun merupakan suatu titik yang istimewa. Dan bahwa semua hal yang ada didunia ini memang benar saling terkait satu sama lainnya (terdengar mustahil tapi hal ini memang benar). Kita semua hanyalah debu bintang yang akhirnya bermanifestasi menjadi berbagai macam bentuk, menjadi pohon, batu, burung, ikan paus, lelaki, wanita, pensil, kursi, dst. Jadi, dengan memelihara ‘lingkungan’ hal ini adalah sebuah bentuk penghargaan terhadap hubungan saling keterkaitan tersebut serta merupakan suatu bentuk kecintaan dan hormat kita terhadap segalanya dan terhadap diri kita sendiri.

 

_DSF1466Peduli Bali hanyalah sebuah langkah kecil atas keyakinan tersebut dan tetap akan selalu menjadi pengingat dari adanya hubungan saing keterkaitan yang tak terhingga.

Selain itu Peduli Bali juga memiliki fungsi lain: Sebuah usaha untuk menghasilkan keuntungan dengan membersihkan barang-barang bekas  dan mewujudkan lingkungan yang bersih, pada saat usaha yang menghasilkan uang dan menjaga lingkungan secara bersama-sama dianggap sebagai hal yang eksklusif. Selain itu juga, dapat difungsikan sebagai suatu ajang pertunjukkan dari tindakan praktikal, dibandingkan hanya mewacanakan suatu teori tanpa aksi, ya anda tahulah istilahnya NATO (No Action Talk Only).
 

Dalam kenyataanya, hal apa yang bisa dilakukan mengenai lingkungan di Bali secara umum, dan khususnya penanganan sampah? Apakah praktis untuk menganggapnya sebagai suatu industri yang berkelanjutan?

 

Industri sampah yang berkelanjutan ….iya pasti. Pada saat ini, kami belum sampai disana namun kurang dari lima puluh tahun lagi, tidak akan ada lagi konsep modern tentang ‘sampah’. Di alam, tidak ada istilah sampah; ‘sampah’ adalah materi dalam suatu siklus tanpa henti yang bisa digunakan lagi oleh kita sendiri atau kembali ke alam. Manusia modern telah membuat konsep mengenai sampah, membuat suatu konsep yang salah tentang kebutuhan yang palsu yang menafkahi ekonomi modern dan saat ini kita sedang berkonfrontasi dengan sistem yang berkontradiksi tersebut. Bukanlah suatu model yang tumbuh namun sebuah model yang destruktif.

 

Industri sampah berhubungan dengan kurangnya peran aktif dari sistem ekonomi dan itulah yang kami lakukan di Bali – kami terutama mengahadapi kontradiksi industri pariwisata yang sangat dominan. Pada akhirya, industri sampah ini adalah pelindung bagi industri pariwisata; tanpa adanya industri ini, pariwisata akan hancur “bunuh diri”.

 

Secara realisitis, dalam tempo lima tahun (sebelum 2020) kita bisa mentransformasikan cara Bali mengelola sampahnya.

_DSF1443

 

Sehubungan dengan pertanyaan tadi, apakah kebutuhan untuk berinovasi dan mengembangkan usaha dalam bisnis ini, kadangkala pernah mengalihkan anda dari ‘idealisme’ anda?

 

Tidak, kami mengambil langkah yang praktis, pendekatan yang berjenjang yang terlihat sebagai suatu inovasi namun hal ini merupakan suatu evolusi alami atas apa yang sedang kita lakukan. Hal ini mungkin terlihat sebagai suatu inovasi, karena kini mungkin baru kami yang pertama kali melakukan hal yang sebenarnya telah dilakukan berpuluh tahun lalu. Kami hanya menghidupkan kembali praktik lama yang mungkin sudah lama tenggelam.

 

Tentunya ada saja saat terpahit bagi anda dalam mengembangkan usaha ini. Apa yang dapat kamu petik dari keadaan tersebut? Apakah situasi tersebut dapat dihindari nanti di masa depan? Ceritakan masa/situasi saat kamu merasa paling dibawah? Masa-masa yang paling membanggakan?

 

Percayalah akan naluri mu sendiri dan selalu jelas terhadap apa yang anda harapkan dari orang lain. Jangan pernah percaya akan senyuman dan jabatan tangan siapa pun – pastikan hitam di atas putih. Mawas diri sendiri dan lindungi sesama tukang sampah.

 

Terkena demam berdarah untuk kedua kalinya benar-benar hal yang menyebalkan. Melihat seorang pemulung lokal masuk penjara dan dintimidasi oleh hotel besar dan aku sendiri tidak bisa banyak memberikan pertolongan, hal itu menjadi sebuah situasi yang paling rendah bagiku. Melihat seorang anak umur 8 tahun berada dalam lingkungan sampah ilegal yang berserakan dengan kemungkinan terkena infeksi penyakit yang dapat mengancam jiwanya dan aku sendiri tidak mampu menolongnya. Anak itu bermain dengan plastik terbakar dan terluka parah.

 

Hal yang paling membanggakan adalah …. Ya, hal itu masih belum tiba, tapi akan datang nanti. Saya mendapat banyak hal menarik untuk masa depan nanti.

 

Seperti di tempat lain, aktivisme lingkungan di Bali muncul dengan risiko tersendiri. Ada uang dan usaha yang dipertaruhkan. Pernahkah Anda merasa benar-benar terancam (Anda tahu, semacam bahaya yang jelas dan hadir (“clear and present dange”r), semacam hal seperti itu) ?

 

Oh iya terjadi beberapa kali. Pisau dan sabit diacungkan di muka saya. Pesan-pesan ancaman. Sebagai orang luar, orang asing, bule dan juga seorang tukang sampah rendahan, sangatlah mudah bagi masyarakat untuk langsung menyalahkan atau marah kepada saya sebagai sebuah cara mengalihkan tanggung jawab atau menghindari tanggung jawab atas kesalahan yang mereka lakukan. Jika anda sedang menjalankan suatu usaha dan berjalan dengan tidak baik, sangatlah mudah untuk menemukan kambing hitam dan menyalahkan pihak dari luar lingkaran sosial anda. Menghindari tanggung jawab…. Bukahkah itu sebuah sifat umum manusia? Sifat ini mulai muncul saat anda menyalahkan adik lelaki anda karena anda sendiri telah memecahkan suatu barang dirumah saat anda sedang melempar bola di dalam rumah.

 

Bagimana keluarga (anak dan istri) melihat karir dan pekerjaan anda?

 

Istri saya mempunyai andil besar dalam usaha yang saya lakoni. Saya tidak akan bisa bertahan dan sukses tanpa bantuan darinya. Dia adalah kunci penting dan seseorang yang memiliki peran aktif dalam usaha ini.

 

Siapakah yang  memberikan pengaruh terbesar dalam filosofi lingkunganmu dan mengapa?

 

Banyak sekali tokoh-tokoh yang mempengaruhi saya, antara lain David Attenborough, Jacques Cousteau, guru ilmu alam kelas delapan saya (Ibu Tyler), Bill Mc Donough & Michael Braungart, Carl Sagan, Buckminster Fuller and masih banyak lagi. Namun, menurut saya, pengaruh terbesar datang dari ibu saya yang benar-benar mempraktekkan apa yang dia wacanakan, ketika tak seorang pun mengerti atau peduli tentang ‘makanan organik’ dan menjalankan gaya hidup holistik. Dia selalu berjalan selangkah lebih maju dan masih bertahan hingga kini.

 

 

Pernahkah anda berpikir bahwa anda akan melakoni hal lain untuk mencari nafkah?

 

 

Tentu saja pernah, namun saat ini, saya terlalu banyak bersenang-senang menghabiskan waktu dengan sampah. Selain itu, saya sudah menyadarinya sejak lama bahwa untuk melaksanakan hal yang saat ini saya lakoni dalam ‘setting’ seperti ini, kesabaran dan selalu fokus sangat diperlukan untuk mencapai kesuksesan.

 

_DSF1456

 

 

Photo:

 

1. Botol daur ulang yang akan dijadikan peralatan rumah tangga

 

2. Pemuatan dan pelabelan limbah beracun yang akan diangkut ke fasilitas pengolahan limbah bahan berbahaya di Pulau Jawa.

 

3. Olivier di tempat kerja.

 

CATATAN: “Peduli Bali” adalah singkatan dari “Perusahaan Daur Ulang Limbah Bali”, “Bali waste recycling company”,  atau nama lainnya Bali Recycling. Untuk info lebih detail silahkan kunjungi www.balirecycling.com