Ni Ketut Sudiani adalah seorang penulis dan wartawan muda yang sempat bertindak sebagai moderator di panel BEWF 2014. Rio Helmi mewawancarainya  tentang penulis muda Bali, tentang BEWF, dan gap antara generasi.

 

RH: Sebagai seorang moderator BEWF tahun ini dan sebagai orang yang sudah punya pendidikan jurnalistik, apa kesan Anda secara keseluruhan tentang BEWF?

 

KS: Kalau secara umum semangat dasar pelaksanaan BEWF 2014 itu bagus sekali. Hanya saja kurang digarap secara maksimal. Dari tahapan awal sampai akhir mendapatkan respon yang bagus, tapi pada saat workshop dan lainnya audiensnya agak kurang. Jadi dampak adanya BEWF kurang mengena ke banyak orang. Padahal penulis yang diundang cukup bagus, kayak Debra (Yatim – red).

 

RH: Tapi Debra dan sebagainya kan bukan penulis muda, bukan “Emerging Writer”?

 

KS: Ya, tapi termasuk juga waktu penulis muda yang datang agak kurang. Kecuali yang di Bentara Budaya, itu audiensnya sampai ratusan. Tapi terlepas dari kuantitas audiens secara umum spirit adanya BEWF ini bagus sekali karena seperti balancing kegiatan anak muda. Selama ini yang lebih banyak bergaung di masyarakat ya musik, atau komunitas sepeda dan sebagainya.

 

RH: Karena kegiatan-kegiatan itu kurang intelektual?

 

KS: Bukan karena kurang intelektual. Tapi ranahnya saja yang berbeda. Jadi dengan hadirnya BEWF ini seperti men’komplitkan’, menjadi semakin komplit. Kebetulan saya juga berada di komunitas Sahaja, komunitas teman-teman penulis muda. Nah biasanya kalau komunitas penulis itu kecenderungannya kan lebih berseni-seni ria, jarang ada yang ‘show off’ performance, kecuali kalau yang teater.

 

RH: Tadi Anda bilang dampak dari BEWF kurang karena hadirinnya kurang. Menurut Anda apakah itu dampak dari kurang promosi atau kurangnya peminat?

 

KS: Saya sempat diskusi dengan Kadek Purnami. Kalau kita lihat promosinya BEWF promosinya luar biasa terutama di social medianya. Tapi ini fenomena yang menarik: respon di facebook, twitter dan sebagainya sangat bagus tapi entah kenapa pada justru saat hari H sangat sedikit yang hadir secara fisik.

 

IMG_4458

 

RH: Tapi itu kan sudah gejala agak umum, di FB “like”nya ramai tapi yang benar-benar berinteraksi sedikit. Respon di sosmed kan gampang.

 

KS: Jadi bukan kurang publikasi tapi mungkin masyarakat, atau lebih tepatnya anak-anak muda belum siap untuk menghadapi hal-hal yang berbau sastra, penulisan.

 

RH: Jadi ada unsur minat yang kurang?

 

KS: Ya unsur minat. Padahal kalau malam harinya ramai sekali – karena malam hari adalah musik, underground dan sebagainya. Siangnya saja sepi. Ya memang ada kesulitan untuk mengundang orang ke acara-acara itu. Saya melihat ada dua pendekatan berbeda antara yang dilakukan di STIKCom dan di Bentara Budaya. Ada perbedaan audiens antara kedua. Kalau di Bentara itu memakai pendekatan lain, langsung mendatangi, menelpon dan sebagainya.

 

RH: Ya itu kan modus operandi biasa kalau di dunia corporate…  (dua-dua ketawa…) Tapi itu soal teknis. Sekarang soal minat. Kalau ada minat pasti datang – buktinya yang Anda bilang soal musik tadi.

 

KS: Kalau kita bandingkan komunitas penulis itu agak tertutup, mungkin karena kecenderungan dunia mereka lebih berhadapan dengan teks bukan dengan publik langsung. Tapi dengan kehadiran BEWF yang dikombinasi dengan musik, disain dan sebagainya memberi ruang untuk penulis untuk dikenal lebih jauh. Kalau penulis kan lebih berhadapan dengan diri sendiri, lebih introspektif.

 

RH: Kalau ketertutupan itu kenapa?

 

KS: Pertama karena kecenderungan berhadapan dengan diri sendiri, introvert. Kedua

memang menulis untuk diri sendiri, maksudnya kalau yang bukan langsung untuk media atau panggung.

 

RH: Ok itu satu hal yang umum tapi apakah ada sesuatu yang khas dengan penulis Bali Emerging Writers yang Anda lihat? Yang disebabkan karena kultur atau hal yang lain?

 

KS: Kalau saya lihat bisa dikatakan ada. Karena dari beberapa penulis yang ada mereka mungkin tidak terbiasa dengan menyatakan pendapatnya didepan umum, kadang ada penulis kesulitan menyampaikan secara oral, tapi kalau menulis bagus. Sekarang waktu dia diberikan ruang untuk muncul di panggung bersama yang bukan sesama penulis itu, itu kelihatan.

 

IMG_5219

 

RH: Tapi itu agak pribadi kan? Kalau secara umum penulis Bali muda apakah ada semacam kecenderungan khas Bali yang dipengaruhi oleh kultur mereka atau situasi? Pengaruh globalisasi yang muncul di Bali bukan semata-mata ekonomis dan industrial dan sebagainya, tetapi juga pemikiran, gaya hidup dan lain-lain. Banyak sekali yang berbenturan. Apakah itu ada dampak pada penulis Bali dan karyanya yang khas?

 

KS: Kalau seperti yang terjadi dengan anak SMA Karangasem yang menerbitkan dua novel itu: pasti kehidupan kesehariannnya mempengaruhi tulisannya. Namun karena dia tumbuhnya di Karangasem benturan budaya itu tidak begitu menonjol dikaryanya karena di Karangasem (fenomena itu – red) kurang, lebih terisolasi. Tapi yang lebih terlihat seperti Eka Pranita Dewi (pada BEWF 2014 tidak hadir – red), bagaimana dia merasa budaya Bali. Kata-kata yang muncul di puisi dia tidak jauh dari keseharian kebudayaan Bali, dan bagaimana dia juga merasa konflik batin (karena) perempuan subordinat disana, tapi di satu sisi ada juga kerterbukaan –  dia menyinggung soal glamorisasi dalam upacara , dengan kata-kata seperti “pelacur para dewa”…

 

RH: Dalam konteks ‘latar belakang’ BEWF sepertinya ada gap antara para penulis perempuan Bali yang pertama dulu, yang pendobrak, dengan yang tumbuh sekarang. Berkaitan dengan itu, Anda pernah menyinggung bahwa salah satu faktor adalah bahwa pertumbuhan kritikus di Bali tidak jalan. Ini satu hal yang…

 

KS: …mencemaskan sebenarnya. Dan mengenai gap memang ada gap (yang merentangi) beberapa generasi sebenarnya.

 

RH: Artinya mencemaskan karena tidak ada feedback…?

 

KS: Ya, itu mencemaskan. Saya melihat itu sangat dipengaruhi dengan karakteristik orang Bali yang “Ewoh Pakewoh”. Kadang kalau kita agak keras, di ‘bawah’  itu seperti hubungan  lebih personal, bukan hubungan karya supaya membangun, lebih sehat dan sebagainya. Agak paradox sih. Karena penulis perlu feedback, tapi karena sensitif (kadang) diambil ke hati menjadi personal.

 

RH: Tapi tanpa ada feedback bagaimana dia berkembang? Seolah semua yang dia lakukan dia (sempurna). Kalau karya penulis Bali kan banyak yang berbahasa Indonesia. Apakah di arena nasional mereka diterima kritikus?

 

KS: Kalau saya lihat setelah beberapa kali ikut pertemuan, penulis Bali terbuka (di konteks nasional). Tapi yang saya lihat (di konteks nasional) ada pergesekan antara satu ‘klan’ dengan ‘klan’ lainnya, misalnya Salihara dengan kubu yang lain. Tapi untuk karya-karyanya teman-teman Bali cukup diperhitungkan juga sih…

 

RH: Saya melihat bahwa “social awareness” yang ada dalam kelompok (di Indonesia, di Bali) tidak ikut terbawa ketika bergesekan dengan kelompok atau clique lain. Kalau saya lihat di kalangan anak muda ini banyak sekali terjadi, bahkan di kalangan yang usianya semestinya sudah melewati fase itu (dua-dua tertawa) juga tidak ada. Interpretasi saya, ini contoh dari ketidakmampuan menerjemahkan tanggung jawab sosial dari konteks tradisional ke konteks modern. Apakah penulis muda Bali (yang emerging) sudah cukup menggali konflik ini?

 

KS: Kalau saya melihat belum begitu dalam sekali. Karena apa yang terjadi sekarang tentunya mempengaruhi apa yang ditulis dan sebagainya. Sekarang kan semuanya serba instan, penulisan juga terpengaruh: asal cepat, tidak digali lebih mendalam esensinya tau apa… Selain dia punya ide, kan selain dia dapat riset tidak mudah mentransformasikan itu, menerjemahkannya menjadi tulisan. Kadang ada orang yang punya ide yang bagus, pemahamannya juga bagus, tapi waktu jadi tulisan tidak terstruktur, tidak kena pemikirannya. Kita di Bali jarang dididik untuk bertanya “kenapa bisa jadi begini?” – saya rasa itu berpengaruh juga.

 

RH: Ya kita mengertilah tentang itu. Tetapi kan sekarang di Bali pergeseran sudah berjalan begitu jauh – saya tercengang kok gak ada yang bertanya lebih mendalam? Sekarang anak muda di Bali punya identitas Bali tapi itu bukan kultur Bali ‘yang dulu’. Aspek luar seperti “koh ngomong” atau “sing nyak dadi bucu” masih ada, tapi isi dari kultur lama itu sudah tidak ada. Ya oke saja, semua nilai kultur pasti bergeser. Tapi seorang penulis bukannya lebih sensitif, apakah hal-hal yang dipermukaan saja yang penting? Apakah tidak ada guncangan?

 

KS: Saya rasa berkaitan dengan itu kembali ke kepekaan tadi. Seorang bisa menulis sampai dalam itu karena kemampuannya menangkap sesuatu yang luput dari perhatian orang lain. Mungkin orang lain hanya melihat permukaan sesuatu, lalu ada yang melihat ternyata ada kedalaman lebih jauh lagi. Karena ini banyak faktor, atau hal lainnya sudah di kelilingi dengan hal lain lagi: mungkin pengaruh lingkungan, pengaruh fesyen, keengganan anak muda dan sebagainya. Ada yang kalau sudah menulis 10 halaman sudah melabel diri sebagai penulis…

 

RH: Diantara penulis-penulis yang “emerging” siapa yang menurut Anda yang paling berpotensi untuk mendongkrak hal ini ke permukaan?

 

KS: Dari sekitar sepuluh pembicara BEWF yang diundang ‘talk show’ kemarin penulisnya hanya sekitar dua atau tiga. (Tapi diluar festival dari generasi itu) ada yang namanya Ni Made Purnamasari yang sekarang ambil S2 Perkembangan Masyarakat di UI (dulu dia ambil antropologi di Udayana). Yang saya lihat yang membedakan karya-karya dia adalah kedalaman apa yang dia bahas, apa yang dia pikirkan. Dan sebagian besar yang dia bahas adalah hal-hal sederhana tapi sering luput dari perhatian kita. Puisinya bagus, esainya, cerpennya.  Cerpennya sering mempertanyakan budaya Bali, misalnya di daerah Danau Batur perempuan harus bersikap sesuai A atau B, disitu dia mengambil sudut pandang sebagai perempuan yang bertanya “Kenapa harus seperti ini?”. Saya melihat bahwa Purnamasari punya potensi besar…

 

RH: Dia kan diundang waktu BEWF yang pertama? Kira-kira bagi dia itu ada dampak atau tidak?

 

KS: Pada saat itu saya rasa iya, karena dia bagusnya  mampu memberi pemikiran baru waktu itu. Dia pun tanggap terhadap pertanyaan dari audiens, contohnya dengan sikap “Oh iya, bisa juga seperti itu..” Jadi mendapat wawasan baru. Mungkin ada yang lain yang berpikir “ah terlalu rumit” tetapi memang sudah saatnya kita mulai sungguh-sungguh seperti itu.

 

RH: BEWF semestinya bukan sekedar panggung saja untuk penulis-penulis emerging tapi juga  kendaraan untuk berkembang lebih jauh. Apakah menurut Anda setelah BEWF yang keempat ini berhasil mengembangkan bakat anak muda?

 

KS: Mungkin tidak bisa kita katakan secara spesifik iya atau tidak. Kan acaranya hanya dua hari begitu, dan tidak bisa dijmain bahwa dengan kesana (otomatis) ada sesuatu untuk dia. Tetapi perlu diperhitungkan juga karena pertama memberikan panggung, dan kedua memberi dorongan buat teman-teman yang baru belajar. Jadi dia dapat sesuatu, kalau dibilang pengakuan mungkin teralu cepat, tapi paling tidak diperhitungkan untuk masuk ke level-level berikutnya. Seperti membuka jalan, memompa – seolah “Saya sudah pernah diundang untuk BEWF, masa saya hanya sampai disitu saja…”

 

RH: Kalau ke depan apa yang Anda harapkan dari BEWF biar lebih efektif?

 

KS: Saya rasa pertama mungkin lebih selektif. Contohnya  moderator. Kan sudah diseleksi jauh hari, semestinya orang yang paham betul. Ini kan ada yang datang dari jauh, kasihan kalau justru pada saat pelaksanaannya tidak ‘sampai’. Kan yang acara satu jam itu ada dampak dari sekian bulan persiapan. Terus yang kedua lebih melibatkan audiens yang lebih luas.

 

RH: Apa lagi?

 

KS: Satu lagi tentang tema. Tema per acara perlu digali lebih dalam, itu mempengaruhi moderator untuk lebih terarah. Dalam satu panel ada tiga pembicara: kan kemampuan, skillnya, berbeda.  Kalau tidak ada benang merah kadang yang dikemukakan satu orang saja yang jadi ramai. Contohnya kalau umpamanya yang dibahas komedi, sekarang apanya komedi yang dibahas.

 

Spirit untuk mempertemukan lintas bidang bagus, tapi harus dicari apa yang mempersatukannya.

 

IMG_4503

 

 

foto-foto: Triny Tresnawulan 

http://www.ubudwritersfestival.com/bewf/