Yang berikut ini adalah wawancara yang dilakukan dengan Pak Devy Kamil Syahbana siang hari tanggal 14 Oktober kemarin di pos pemantauan Gunung Agung di Rendang.

RIO HELMI: Katanya bahwa kemarin ada tremor non-harmonik untuk ke pertama kalinya semenjak status Awas. Kan dulu adanya tremor non-harmonik menjadi sebab bahwa status dinaikan dari Waspada ke Awas.

DEVY KAMIL SYAHBANA: Ya, waktu itu pernah satu kali. Lalu termasuk kemarin sudah ada total 9 kali. Dari dua hari terakhir ada delapan kali.  (semenjak wawancara ini dilakukan sudah terjadi 3 kali lagi).

RH: Itu kira-kira tanda ada peningkatan atau bagaimana?

DKS: Tremor non-harmonik itu gempa vulkanik yang muncul berurutan. Jadi satu gempa muncul, sebelum gempa ini muncul sudah muncul gempa lain. Secara fisik dia itu adalah proses aliran-aliran fluida yang mendobrak celah-celah, yang suaranya seperti “dek-dek-dek-dek”. Kalau satu gempa itu suaranya “dek” gitu. Kemarin sebelum itu muncul kita rekam 900 gempa vulkanik yang artinya ada penambahan tekanan yang signifikan. Karena tekanan yg belebihan itu dia harus dialirkan, dan ketika dialirkan ya muncul tremor seperti itu. Tapi manifestasi di permukaan belum tentu dalam bentuk letusan. Memang di dunia ada contoh dimana “spasmodic burst” (itu nama lainnya) muncu sebelum letusan, tapi ada juga dimana setelah spasmodic burst manifestasi dipermukaan bukan letusan. Misalnya ada asap lebih tebal. Kemarin misalnya setelah spasmodic burst manifestasi dipermukaan baru berupa asap lebih tebal saja.

RH: Jadi ada yang bilang pertanda akan meletus itu adalah spasmodic burst yg tidak ada henti-hentinya bagaimana?

DKS: Oh tidak. Yang namanya tremor di gunung api ada tiga. Yang pertama adalah tremor yang masih dalam dan konten frekuensinya tinggi, dia masih dalam tsahap-tahap penghancuran celah-celah untuk naik ke permukaan. Nah setelah itu biasanya muncul yang disebut tremor harmonik. Nah ketika tremor harmonik muncul itu berarti magma sudah ratusan meter, sudah mendekati permukaan. Tapi ini gak selalu muncul, tergantung dari sifat gunungnya. Setelah tremor harmonik ini muncul baru termor menerus. Saat tremor menerus ini muncul dia proses pendobrakan sumbat lava (lava plug). Setelah 1963 sisa-sisanya membentuk lava plug, itu magma yang dalam rentang waktu lama terjadi kristalisasi, yang berfungsi sebagai sumbat. Ini seperti botol coca-cola kalau dikocok kan naik gasnya. Jadi gas ini panas, dan karena itu dia mampu muncuk ke kawah, Saat kondisi normal gak keluar asap. Bulan Juli, Agustus kemarin dia (G Agung) gak keluar asap, beda dengan gunung lain yang ‘open system’ dimana dia sudah terbuka jadi asapnya keluar. Gunung Agung ini ‘closed system’ tertutup jadi kemarin keluar asap ini karena manifestasi peningkatan dari tekanan didalam.

RH: Oh jadi asap itu bukan lagi sekedar air yang mengena kawah yang panas?

DKS: Kalau sekedar uap air itu tidak akan ada asap, kalau ada asap berarti uap dari magma,seperti yang tgl 7 Oktober setinggi 1500 meter itu. Itu ‘magma heating’ betul-betul. Itu high pressure (tekanan tinggi) itu disebut ‘volcanic puff’. ‘Puff’ itu terjadi kalau tekanannya sebagian sudah keluar tapi belum keluar materialnya, baru gas organic.

RH: Nah kalau tremor yang terus-menerus itu dibilang gejala akan segera meletus, Apa ada gejala lain yang bisa sosialisasi ke masyarakat.

DKS: Kalau dimonitor di alat tremornya terus menerus dan juga kekuatanya meningkat terus sampai akhirnya ‘overscale’ (melebihi kapasitas alat rekam).

RH: kalau manifestasi di luar?

DKS: Bisa jadi enggak kelihatan dulu. Kalau terasa bisa jadi itu kalau sudah betul-betul energinya kuat sekali. Tapi kalau energinya gak kuat kita tidak bisa tahu manisfestasinya. Kan banyak sekali gunung api yang kelihatan tenang tiba-tiba erupsi.Gak harus asap itu keluar dulu sebelum meletus.

RH: Jadi bagi orang awam, di KRB umpamanya, pertanda apa yang harus mereka perhatikan?

DKS: Ya biasanya yang di KRB itu akan dengar suara dulu. Kalau ada suara itu sudah mulai erupsi. Kalau masih mungkin harus lari sejauh mungkin. Karena bisa diawal erupsi lebih kecil, itu baru membuka, lalu bisa disusul dengan erupsi lebih besar yang tinggi. Kalau dulu Gunung Agung seperti itu, tapi kita ga bisa prediksi apakah akan persis seperti itu. Waktu 1963 kan ga ada instrumen, (hanya observasi dari luar). Tapi kita memang gak bisa prediksi persis sebelumnya; seperti di Amerika (Gunung St Helens) sudah diprediksi seperti dulu ternyata lain. Jadi kita lebih baik hati-hati memprediksi iangan sampai ada yang merasa di daerah aman tahu-tahu kena bencana.

Kalau tanda-tanda, saya pernah alami berada di Krakatau saat meletus, pas sebelumnya ada suara seperti batu-batu diadu-adu ‘krak-krak’ gitu dan kalau kita diatas gunung goyang. Ya kalau masih sempat lari – batu itu akan terlempar kemana-mana dan jatuh dengan kecepatan tinggi, ratusan meter per detik. (Hanya) kalau untung (sekali) bisa selamat.

RH: Terima kasih atas waktunya Pak Devy.