Desak Purnami kini berumur hampir 25 tahun dan telah ngadu nasib di Ubud selama 6 tahun. Berawal dari kegelisahan anak desa pegunungan yang berhadapan dengan dunia baru, hingga menjadi seorang perempuan yang pédé menghadapi siapapun, asing atau lokal, ia menanggapi segala yang terjadi dengan polos tapi segar. Rio Helmi mewawancarinya:

 

 

 

RH: Desak umur berapa waktu pertama ke Ubud?

 

DP: Saya ke Ubud saat saya baru berusia 18 jalan 19 tahun,baru lulus SMA.

 

RH: Saat itu apakah kamu ke Ubud karena diajak kerja di Ubud sebelumnya atau langsung saja

ngadu nasib?

 

DP: Waktu itu saya diajak bekerja oleh mantan bos saya yang berasal dari desa yang sama dan dia punya usaha silver shop di Ubud,tapi tinggal di Tampak Siring. Jadi selama kerja disana,saya pp tiap hari selama 3 bulan.

 

RH: Bagaimana perasaan Desak waktu pertama kali menetap di Ubud? Bagaimana Desak sebagai orang luar Ubud di terima di masyarakat?

 

DP: Perasaan saya sih ada senengnya,karena akan bekerja dan bisa cari uang sendiri,tapi ada juga groginya,karena baru pertama kali keluar wilayah Bangli dan tinggal dirumah orang lain. Yang paling ngangenin ya bangun pagi lalu duduk di depan “paon “ dapur tradisional Bali untuk “ngidu” alias menghangatkan badan. Sampai sekarang juga masih kangen untuk itu.

DSCF8146

 

RH: Apa yang menjadi “pahit”nya pengalaman-pengalaman pertama jaman itu? Dan apakah itu membuat Desak jadi keder / pengen pulang kampung?

 

DP: Yang tidak menyenangkan adalah ketika toko tempat saya kerja harus ditutup saat baru 2 bulan saya bekerja karena over-contract, jadi saya harus mencari pekerjaan lagi. Saya kemudian melamar ke subuah toko pakaian yang dimiliki oleh seorang expat Canada, namun sialnya sehari mejelang mulai kerja dia malah membatalkan kesepakatan bekerja disana dengan alasan  belum siap menerima seseorang yang benar-benar baru dan belum berpengalaman. Jadilah saya luntang lantung selama hampir 3 minggu, anak kost, tanpa pekerjaan, bekal uang sudah menipis, tabungan tak punya, dan malangnya lagi saya sakit. Benar-benar disaat seperti itu saya hampir putus asa. Tapi saya sudah bertekad untuk tidak pulang kampung sampa saya mendapatkan pekerjaan. Akhirnya mantan calon bos saya itu berubah pikiran dan memanggil saya untuk bekerja di tokonya. Disana saya bekerja selama 2.5 tahun saja karena ada hal-hal yang tidak bisa saya terima, terutama perlakuan rekan kerja yang tidak menyenangkan. Selain itu kesempatan untuk berkembang juga sedikit. Jad saya putuskan untuk berhenti. Masa bekerja disana adalah saya merasa tertekan hingga turun berat badan sampai 10 kg. Untung ada keluarga di kampung yang support secara moral. Tapi kalau secara materi sebenarnya saya sudah mandiri dan membiayai segala keperluan saya sendiri sejak awal bekerja. Jadi mereka nggak perlu untuk itu, justru malah saya yang berusaha untuk membantu keuangan orang tua meskipun gak banyak.

 

RH: Apa yang menjadi “manis”nya pada masa itu sehingga Desak merasa bisa bertahan?

 

DP: Saya bertemu dengan seseorang yang bikin saya happy dan betah di Ubud sampai sekarang, hehe. Dulu saya sering diledek karena logat Bangli yang masih kental sekali, tapi saya orang yang lumayan cepat dalam hal adaptasi jadi sejak pertama kerja saya tidak terlalu mendapat kesulitan untuk berinteraksi dengan orang-orang baru disekitar saya, baik itu turis maupun orang disekitar, meskipun sempat nervous juga. Tapi seiring waktu itu semua saya bisa atasi dan sekaramg saya sudah percaya diri untuk ditepatkan disituasi apapun.

 

RH: Apa kesan Desak tentang expat di Ubud? Desak sering cukup kritis terhadap para expat di social media. Apakah itu semata-mata karena apa yang mereka katakan disitu  ataukah  karena secara umum sikap mereka secara di “luar rel” yang pantas/patut di Bali?

 

sak tu fb1

 

DP: Mengenai para expat,saya rasa ada yang memang committed untuk membantu orang lokal dan berusaha untuk selalu saling menghormati tapi banyak juga yang cuman sekedar menumpang hidup saja. Kalau di sosial media, saya anggap itu adalah tempat untuk bersuara agar tidak melulu hanya expat saja yang berkuasa. Yang saya tidak suka adalah mereka2 yang mempekerjakan orang Bali tetapi tidak terima dengan adanya upacara2 adat yang menuntut karayawan agak sering libur. Biasanya,setahu saya kalau ada keperluan, pegawai akan menukar libur dengan hari lain atau kalau memang sangat terjepit, mereka rela berhenti bekerja demi menjalankan kewajiban bermasyarakat.

 

RH: Bagaimana Desak sekarang melihat situasi Ubud, khususnya posisi orang Ubud/Bali sendiri? Bagi Desak apa perbedaan orang Ubud dengan orang Bali lainnya?

 

DP: Memang rasanya Ubud sudah kebanyakan expat sekarang, dan bisnis2 juga kebanyakan dikelola dan dimiliki para asing, legal atau illegal, sulit dibedakan. Perbedaan yang saya rasakan adalah masyarakat Ubud tentunya lebih maju dibidang ekonomi dan daya beli masyarakatnya lebih tinggi dibandingkan dengan daerah asal saya, Bangli.

 

RH: Secara keseluruhan menurut Desak apakah orang Ubud sendiri punya kemampuan untuk memecahkan berbagai persoalan yang sekarang terjadi di Ubud: lalulintas , sampah dan sebagainya, atau harus kerjasama dengan orang “luar”?

 

DP: Mengenai permasalah sosial,seperti sampah,laulintas,dsb,saya rasa ini masalah yang kompleks yang memerlukan kesadaran diri masyarakat.Tapi alangkah baiknya jika kedua sisi baik orang lokal maupun luar bisa bekerja sama untuk mengatasi permasalahan tersebut.

 

RH: Apakah Desak punya keinginan untuk meninggalkan Ubud, meniti karir atau pendidikan lebih jauh lagi? Kalau iya apakah sudah punya bayangan?

 

DP: Sedemikian banyak hal yang saya dapat di Ubud,membuat saya belum berpikiran untuk meninggalkan “kampung bule” ini.Tapi saya punya cita2 sederhana,suatu saat saya ingin bisa lebih mandiri dan bekerja untuk diri sendiri,self employed.Entah apa itu masih di angan2.Untuk pendidikan saya anggap pengalaman2 selama ini sebagai guru pribadi.Dan saya tidak akan menutup diri untuk hal2 baru nantinya.

RH: Perkembangan apa yang paling Desak dambakan untuk Ubud? Untuk Bali?

 

DP: Saya pribadi sangat berharap agar kelak Ubud kembali menjadi milik orang Ubud sepenuhnya (dlm hal ini,usaha2 dan toko2,juga tanah) dan semoga Bali bisa tetap ajeg terutama agar tanah dan sawah tidak semua berubah jadi rumah2 bertembok tinggi berpondasi semen. Saya sebenarnya punya mimpi agar suatu saat orang Bali yang mempekerjakan orang asing, walaupun entah kapan, tapi gak ada salahnya bermimpi kan? 🙂

 

desk tu fb 2