Wawancara dengan Lily Wardoyo, Ketua Yayasan Bali Peduli yang bergerak di bidang penanggulangan HIV/AIDS di Bali.

oleh Rio Helmi

 

Rio Helmi: Mulai kapan Bali Peduli beroperasi resmi (sebagai yayasan)? Siapa pendirinya?

Lily Wardoyo: Bali Peduli menerima pengesahan resmi dari Kementerian Hukum dan HAM pada tahun 2013, hampir dua tahun setelah Akte Pendirian diajukan. Namun klinik Bali Peduli yang pertama – Klinik Bali Medika di Kuta – sudah mulai beroperasi sejak bulan Oktober 2011.  Bali Peduli didirikan oleh sekelompok penduduk Bali dibawah pimpinan Dr. Steve Wignall – seorang pakar, peneliti dan aktivis HIVdan AIDS dengan pengalaman kerja di Indonesia lebih dari 25 tahun. Dr. Steve adalah Penasehat Nasional Komisi Penanggulangan AIDS Indonesia, serta Penasehat Medis Senior Clinton Foundation di Propinsi Papua.

RH: Rasanya semua yang terkait dengan berdirinya yayasan ini sebelumnya sudah mempunyai motivasi kemanusiaan yang serupa, namun apa yang menjadi hal utama yang akhirnya mendorong para pendiri untuk bertindak?

LW: Pemicu awal adalah tingginya tingkat kematian diantara laki-laki muda di Bali karena penyakit yang terkait dengan HIV. Sebagai seorang dokter yang bekerja dibidang HIV dan AIDS, Dr. Steve sering menerima permintaan pendapat/bantuan tentang pasien yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan perawatan karena diduga terjangkit HIV. Seringkali bantuan terlambat atau tidak diperoleh sehingga pasien tidak tertolong. Kebanyakan kasus kematian ini terjadi diantara laki-laki berusia 20 -30 tahun. Seringnya terjadi kasus semacam inilah yang memicu para pendiri Bali Peduli untuk bertindak. Misi kami: Menghilangkan hambatan ke akses perawatan dan penyebaran HIV di Bali melalui pelayanan testing dini dan pengobatan tanpa bayar; layanan outreach/penyuluhan; serta dukungan ODHA.

Dr-Steve-WignallDr Steve Wignall saat memberi penjelasan kepada delegasi UNAIDS tahun 2014

RH: Awalnya kegiatan Bali Peduli berpusat di areal Kuta/Legian/Seminyak. Apa yang membuat Bali Peduli kemudian melebarkan sayap sampai wilayah Ubud? Apakah Ubud sama tingkat resikonya seperti di wilayah Seminyak dan sekitarnya? Kan disini tidak ada kehidupan malam yang seheboh daerah itu? Ataukah keliru tanggapan bahwa kehidupan malam adalah lingkungan utama bagi penyebaran HIV?

LW: Sebagian besar dari pendiri/aktivis Bali Peduli tinggal di Ubud jadi membuka kegiatan di wilayah Gianyar dan sedikit berbakti kembali di tempat tinggal kami adalah langkah alami. Klinik Bali Peduli di Ubud – Klinik Anggrek, bertempat di Puskesmas Ubud II, Sayan – mulai beoperasi Juni 2013. Bicara tentang resiko dan kehidupan malam yang heboh. Resiko utama penyebaran, dan hambatan terbesar penanggulangan, HIV adalah kurangnya pengetahuan, dan tingginya stigma (bahkan diantara praktisi kesehatan!). Kehidupan malam hanya menjadi resiko apabila orang-orang tidak mengerti tentang cara penularan HIV dan pentingnya berperilaku seksual yang aman.  Khusus tentang Ubud, di wilayah Gianyar ada sekitar 30 kafe dan lebih dari 200 pekerja seks tidak resmi. Sudah menjadi kenyataan bahwa para pelanggan kafe dan pengguna jasa pekerja seks sering kali menolak menggunakan kondom, sedangkan pemberi jasa tidak mempunyai ‘hak’ untuk memaksakan penggunaan kondom. Masalahnya, para laki-laki pengunjung kafe tersebut kemudian pulang dan menularkan IMS (infeksi melalui seks) atau HIV kepada isteri atau pacarnya. Kasus yang ditemui di Ubud (berbeda dengan Kuta) adalah penularan terhadap wanita dan anak-anak.

Untitled-1tes darah gratis dan hasilnya diberitahu setelah hanya satu jam

RH: Selain memberi layanan tes darah gratis dan cepat, apa saja kegiatan Bali Peduli di Ubud? Pencegahan seperti apa yang ditekankan sesuai dengan resiko terbesar di dari Ubud?

LW: Salah satu pilar untuk keberhasilan penanggulangan HIV dan AIDS adalah layanan yang murah, menyeluruh, mudah dicapai, effisien, bermutu tinggi dan tidak diskriminatif. Penanggulangan HIV hanya bisa sukses apabila ada penanggulangan IMS yang effektif, dan keduanya harus terkait. PUSKESMAS atau pusat kesehatan masyarakat – penyedia jasa kesehatan utama untuk sebagaian besar masyarakat – melayani pasien dalam jumlah besar dan pelayanan kesehatan reproduksi/seksual hanyalah sebagian kecil dari pelayanan puskesmas secara keseluruhan. Kurangnya waktu dan privacy (sebagai akibat ratio jumlah pasien vs dokter/petugas kesehatan dalam sehari) dan, dalam beberapa kasus, kurangnya pengetahuan dan kemampuan praktisi kesehatan, berakibat mutu pelayanan tidak optimal dan kurangnya jangkauan terhadap kelompok beresiko tinggi atau sudah tertular HIV dan IMS lainnya. Mutu pelayanan yang sub optimal menyebabkan pasien frustasi, tidak puas dan drop out dalam waktu singkat. Masalahnya mereka terus menularkan infeksinya atau hilang dari follow up dan meninggal dini. Pelayanan Bali Peduli di dasari kesadaran tersebut, dan dilakukan melalui:

  1. Test dini dan pengobatan tanpa bayar. Hasilnya selesai dalam 1 jam sehingga pasien tidak perlu menunggu dan kembali datang.
  2. Penyuluhan tentang kesehatan reproduksi dan HIV dan AIDS
  3. Dukungan ODHA

RH: Pendidikan dan pengetahuan juga menjadi fokus Anda. Kira-kira program seperti apa yang sudah dilaksanakan, dan apakah ada peningkatan lagi yang direncanakan? Target idealnya? Apa ada kerjasama dengan pemerintah di bidang ini?

LW: Pendidikan/penyuluhan adalah bagian penting dari aktifitas Bali Peduli. Team Outreach Bali Peduli mengadakan penyuluhan di banjar-banjar, kepada kelompok PKK dan muda mudi; ke sekolah-sekolah; perusahaan dan lembaga pemasyarakatan. Kegiatan penyuluhan dilakukan secara interaktif dan, dari banyaknya pertanyaan yang diajukan dalam setiap kegiatan, jelas bahwa masyarakat khususnya kamu muda haus informasi tentang kesehatan reproduksi dan seksual.  Apa yang sudah dicapai Bali Peduli di Ubud/Gianyar dalam 18 bulan ini hanyalah sebagian kecil dari rencana kami. Semuanya tergantung dari keberadaan dana. Target ideal? Pengetahuan meluas dikalangan masyarakat tentang HIV dan AIDS – seperti bagaimana HIV tidak menular melalui jabat tangan, duduk bersebelahan, makan bersama, tidur bersama atau menggunakan toilet yang sama. Bahwa HIV bukanlah penyakit mematikan tetapi kondisi kronis seperti darah tinggi atau diabetes yang bisa diatasi dengan kepatuhan pengobatan. Bahwa dengan pola hdup sehat ODHA bisa panjang umur dan produktif. Kerja sama pemerintah tidak hanya terkait dengan penyuluhan tetapi, lebih penting lagi, pengadaan ARV dan sebagian reagen untuk testing, serta kondom dan pelumas.  Baru-baru ini Bali Peduli diundang untuk mengadakan penyuluhan di Kantor Camat Ubud dimana isteri Bapak Camat secara sukarela menjalani tes HIV. Contoh yang bagus dari seorang pejabat dan isterinya!  Kerja sama dengan pemerintah juga terjalin dari kerja sama Bali Peduli dengan Puskesmas Ubud II dimana Klinik Anggrek beroperasi. Pihak Puskesmas menyediakan tempat dan pengadaan listrik serta air. Puskesmas juga merujuk ibu hamil dan keluarga ke Klinik Anggrek. Bali Peduli bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Propinsi Bali dan Kabupaten Gianyar untuk pengadaan Pelatihan Praktisi Kesehatan di Gianyar dalam hal penanganan pasien HIV.

education-3Kegiatan bersama para remaja di Penestanan saat sesi pendidikan seks dan kesehatan

Group activities during an YBP Sexual and Reproductive Health Education Session with Balinese Teenagers in Penestanan, Ubud

RH: Kabarnya Bali Peduli juga melakukan penunjangan ekonomis bagi klien tertentu. Apa yang menjadi kriteria agar seseorang dianggap layak untuk masuk program ini? Bagaimana tunjangan itu dilakukan, apakah secara finansil/uang langsung?

LW: Positive Living Fund sebenarnya tidak termasuk dalam rencana awal Bali Peduli. Program ini lahir karena kami menemukan, dalam waktu singkat setelah beroperasi di Ubud, kasus seorang ibu dan anak HIV+ dikucilkan dari rumah keluarga setelah suaminya meninggal karena penyakit terkait HIV. Mereka tidur dibawah meja di pasar Kintamani karena tidak diterima kembali oleh keluarganya sendiri. Saat itu tidak ada budget untuk hal-hal semacam ini jadi beberapa dari kami mengumpulkan dana untuk membeli sembako dan menyewakan tempat tinggal sementara. Kenyataannya, anaknya harus masuk rumah sakit dan tidak tertolong. Untuk menghindari ketergantungan Positive Living Fund tidak memberikan bantuan dalam bentuk uang. Program ini diadakan untuk membantu yang membutuhkan kembali mandiri dengan dukungan sementara. Team Outreach kami melakukan tinjauan langsung dan memberikan rekomendasi; mengantarkan bantuan secara teratur sekaligus evaluasi. Program ini hanya berlaku untuk wanita dan anak-anak HIV+, sifatnya sementara (3 – 6 bulan). Bali Peduli bekerja sama dengan LSM lain untuk pengadaan bea siswa agar anak-anak yang putus sekolah bisa kembali belajar. Untuk sementara, program ini hanya berlaku di wilayah Gianyar.

RH: Secara umum, rintangan atau kendala apa yang paling merepotkan aktivitas Bali Peduli? Apakah Bali Peduli mengalami resistensi dari lapisan masyarakat tertentu, atau adakah kesulitan tembus ke sektor tertentu karena tatanan sosial lokal? Atau faktor lain?

LW: Seperti LSM pada umumnya kendala paling utama adalah pendanaan. Mungkin karena HIV kurang seksi dan terlalu menakutkan/tidak nyaman untuk dibicarakan?

RH:Resistensi dari masyarakat berasal dari ketidaktahuan dan itu menyulitkan kami karena stigma yang mendalam membuat pembicaraan tentang hal-hal seksual dan kesehatan reproduksi sulit diterima oleh sebagian lapisan masyarakat. Stigma juga membuat orang berpikir bahwa IMS dan HIV adalah kondisi khusus untuk orang-orang yang kurang bermoral, walaupun seperti terbukti di Ubud penularan kebanyakan terjadi dari laki-laki ke isteri atau pacar dan mereka ini, terutama penularan ke bayi, hanyalah korban ketidaktahuan. Hal yang tidak seharusnya terjadi dan mudah dihindari!

RH: Contoh kasus yang paling memilukan? Apa persisnya yang membuat Anda iba?

LW: Contoh kasus pertama diatas, terutama karena anaknya tidak tertolong, tidak bisa dilupakan dan sulit diterima. Kita tahu bahwa kasus semacam itu berasal dari stigma atau alasan ekonomis tapi, dalam kasus ini, keluarganya bahkan menolak meminjamkam kartu keluarga untuk mengurus jamsostek agar bisa mendapat bantuan untuk perawatan rumah sakit. Walaupun akhirnya LSM lain memberikan bantuan finansial dan bantuan jamsostek berhasil diperoleh, hal-hal seperti itu membuat marah dan sedih.

RH: Contoh kasus yang paling memberi semangat? Kenapa menyulut antusiasme Anda?

LW: Banyak hal yang menyemangati… Meningkatnya jumlah orang yang datang untuk melakukan tes; kerja sama dengan pemerintah walaupun lambat tapi menunjukkan kemajuan; team yang penuh dedikasi dan kerja keras; appresiasi dari pasien dalam bentuk sumbangan sukarela; kerja sama lebih baik dengan LSM lain (karena kami percaya problem HIV di Bali tidak mungkin ditangani sendiri tetapi harus menjadi usaha bersama); meningkatnya minat perusahaan dan para pemiliknya untuk ikut berpartisipasi; partisipasi masyarakat menjadi relawan.

clinic-5

 

RH: Bali Peduli yayasan nirlaba kan, dananya dari mana? Apakah harus tetap menggali dana ataukah sudah ada donor yang tetap?

LW: Donor tetap adalah impian kami. Bali Peduli diberkahi mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Di Ubud kegiatan kami dimungkinkan dengan dukungan Global Grant lewat Rotary Club Ubud Sunset (dana ini sudah selesai) dan The Mel Wolf Foundation untuk sebagian kegiatan Outreach. Berbagai donator pribadi memungkinkan kami membuka klinik di Kuta dan beroperasi di Gianyar. Melalui jaringan Dr. Steve, peralatan utama testing HIV disumbangkan oleh pabriknya di Amerika Serikat. Masalahnya adalah ketidak pastian adanya dana berkelanjutan. Penggalian dana adalah kekhawatiran yang terus menerus hadir.

RH: Seandainya ada yang mau ikut berdana atau menjadi sukarelawan, sebaiknya bagaimana caranya?

LW: Untuk berdana, berapapun jumlahnya, bisa langsung melakukan transfer ke akun yang tertera di website Yayasan Bali Peduli dan memberi tahu lewat email agar bisa dibuatkan tanda terima resmi. Atau bisa menghubungi kami melalui info@balipeduli.org untuk informasi lebih jauh. Untuk menjadi relawan, bisa menghubungi lewat alamat email diatas atau lewat email comms@balipeduli.org

 

clinic-2

 

 

 

 

 

 

 

STATISTIK KEGIATAN YBP DI UBUD

SESI PENDIDIKAN (total): 79

PARTISIPAN SESI PENDIDIKAN (total): 3,695

 

2013 2014
PASIEN YG DITES UTK HIV 48 403
PASIEN YG HASIL TESNYA HIV+ 8 39
IBU HAMIL YG DITES UTK HIV 5 524
IBU HAMIL YG HASIL TESNYA  HIV+ 0 2

 

foto paling atas: Partisipasi para siswa adalah unsur penting dalam sesi pendidikan YPB di Ubud.

semua foto: Yayasan Bali Peduli