Atas permintaan beberapa rekan, berikut adalah terjemahan posting bhs Inggris “An Archipelago in the Ocean of Corona, part2” tgl 16 April 2020., oleh Rio Helmi.

Banyak, dan juga tidak banyak telah terjadi sejak bagian 1. Saat saya menulis ini, Presiden masih belum mengambil keputusan tegas tentang mudik, resminya sejauh ini tidak ada larangan perjalanan pulang kampung – meskipun itu sangat jelas bahwa Mudik akan menjadi ajang peningkatan tajam penularan covid-19. Imbau, imbau, imbau. Setidaknya satu ahli epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono, memproyeksikan bila mudik dibiarkan berlangsung  lonjakan infeksi bisa sampai hampir 50% lebih tinggi, belum lagi efek tambahan lainnya.

Lalu dalam langkah yang mengejutkan, Menko Kemaritiman dan investasi Luhut Binsar Pandjaitan, yang senantiasa menasehati Presiden Jokowi, kemarin mendadak mengisyaratkan bahwa mungkin akan ada larangan mudik dikeluarkan minggu depan. Tiba-tiba kemudian, tak ada angin taka ada hujan,  Luhut mengumumkan inisiatif untuk memikat wisatawan dari Cina, Korea Selatan dan Jepang untuk datang ke Bali. Sungguh suatu keajaiban.

Menurut survei yang dilakukan dengan 3.853 responden di Jakarta, sekitar 50% tidak akan pulang ke rumah; bagi 43% yang tetap akan mudik salah satu faktor besar adalah mereka kehilangan pekerjaan. Survei tampaknya mengindikasikan bahwa jika larangan diberlakukan resistensi jauh kurang dibanding yang diperkirakan sebelumnya. Tetapi hal ini juga menggaris-bawahi  perlunya program kesejahteraan multi-level yang integral, mungkin jangka panjang, bagi jutaan keluarga Indonesia yang hidup di ambang kemiskinan.

Di Bali, atas inisiatif mereka sendiri, beberapa banjar telah memulai membagi sembako pada warganya – jumlahnya bervariasi, namun jadwal kedepan belum jelas. Walau untuk sebagian besar masyarakat Bali belum benar-benar mencapai titik genting, kebanyakan anggota banjar cukup antusias menerima bahan pokok, terutama beras, telur dan minyak – yang sebenarnya masih cukup mudah diperoleh saat ini. Bagaimana kelanjutannya pada saat-saat yang akan datang seandainya situasi menjadi lebih kritis, masih tanda tanya.

Membagi sembako di Br Lobong, Singakerta.

Memang dibandingkan dengan angka-angka Jakarta, mencurigakan bahwa jumlah resmi infeksi dan kematian di Bali rendah dan hampir stagnan. Mengingat kelangkaan testing, kurangnya data yang akurat, dan kurangnya survei yang kompeten dan komprehensif (hal ini berlaku di seluruh nusantara) ini tidak mengejutkan; banyak pengamat  yang serius dan ahli epidemiologi cenderung mengabaikan angka-angka resmi dan membuat modeling berdasarkan faktor-faktor lain.

Sebuah artikel baru-baru ini di Asia Times yang sempat mengutip saya, diberi judul “Imunitas misterius Bali untuk Covid-19”. Saya terkejut melihat judul itu, dan rupanya penulisnya pun kecolongan oleh redaksi. Meskipun tidak menunjukkan bahwa Bali sebenarnya kebal terhadap penyakit ini,  sayangnya penulis tidak juga mendalami tentang penyebab angka-angka yang sangat rendah dan data yang begitu miskin. Penulis, John McBeth adalah seorang jurnalis senior dan berpengalaman, jelas-jelas  sangat berhati-hati dalam penilaiannya. Namun kombinasi pandangan yang agak dangkal tentang situasi di Bali dan penjelasan sepintas tentang peran demam berdarah yg mengkamuflase infeksi covid19 (telah terjadi wabah DB di daerah-daerah yg penduduknya padat seperti Ubud) yang dicurigai  oleh dokter-dokter, termasuk dokter saya sendiri,  seolah jadi ngambang. Dokter ku menjelaskan bahwa ‘demam berdarah palsu’ sudah disinyalir sebagai kamuflase covid-19, bahkan ada kajian ilmiah tentang kejadian serupa di Singapur.

Terjadinya wabah kecil demam berdarah di Ubud menarik karena berawal di pusat Ubud di mana pertunjukan tarian untuk wisatawan masih berlanjut minggu-minggu menjelang wabah. Lalu dari sana menyebar ke rumah-rumah tetangga dalam radius dekat. Pola ini bukan tipikal demam berdarah. Demam berdarah cenderung mengikuti lokasi genangan air stagnan. Namun kini kita hanya bisa berspekulasi bahwa ini adalah demam berdarah palsu alias penularan covid-19 terselubung -sejauh pengetahuan saya belum ada testing antibodi yang dilakukan. Walau Ini spekulatif, tetapi mungkin saja skenario seperti itu terjadi di mana pun ada wabah demam berdarah. Sekali lagi, sangat disayangkan kurangnya testing dan tracing yang agresif telah membuat kita miskin data.

Selain dari faktor-faktor umum yang saya sebutkan sebelumnya, perlu juga kita akui bahwa dengan keadaan rumah sakit umum yg sudah kesulitan mempertahankan protokol hiegene yang baik karena kurangnya pakaian pelindung dsb, banyak orang enggan untuk pergi ditesting karena takut malah terinfeksi di sana. Baru pada minggu-minggu terakhir ini kit rapid test tersedia selain di rumah sakit umum Sanglah di Denpasar, dan kini akhirnya ada pula tes PCR.

Pemuda di Br Nyuhkuning menyemprot rumah tangga-rumah tangga di wilayah mereka.

Faktor lain yang harus diperhitungkan adalah stigma. Beberapa banjar telah secara agresif melakukan lockdown setelah kasus-kasus yang dicurigai terungkap, dan masyarakat pun resah. Saat seorang dokter kenalan saya pas sedang merawat seorang pasien asing dengan penyakit yang tidak ada kaitannya dengan covid19 di Payangan, tiba-tiba kedatangan kelian banjar yang dengan gaya kasar minta penjelasan apakah pasiennya kena covid-19, dan bahwa jika demikian pasien harus segera di evakuasi. Sedikit sekali penyuluhan tentang metode dan manfaat karantina diri di rumah untuk kasus-kasus ringan yang sebenarnya tidak perlu perawatan di rumah sakit. Saya yakin bahwa penduduk setempat akan berusaha sedapat mungkin agar tidak dikirim ke karantina pemerintah yang jauh dari rumah. Apa pun yang mirip dengan ‘pembuangan’ dari komunitas mereka pasti traumatis bagi orang Bali.

Sementara rasa aman semu (atau kekebalan semu dalam kaitan ini) justru melemahkan upaya mitigasi seperti tetap di rumah dan menjaga jarak atau social distancing. Banyak orang yang tidak sadar  bahwa sekitar 50% orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala (OTG) – hal mana tidak berarti  bahwa mereka tidak menularan virus covid-19. Suatu saat saya keluar rumah karena ada kepentingan di kebun ku di  pegunungan, pada jalur pulang pergi, orang yang pakai masker masih langka. Saya melihat ekspatriat joging tanpa masker, saya juga melihat penduduk setempat tanpa masker berkumpul ngobrol.

Kita sudah mendengar kasus yang muncul dari pekerja migran yang kembali dari luar negeri, kebanyakan dari kapal pesiar, yang ternyata terinfeksi. Sebagai contoh seseorang secara resmi dikonfirmasi minggu lalu di Karangasem, dan pada hari Selasa tanggal 14 April kasus baru-baru ini di Petulu, Ubud juga dikonfirmasi – seorang pekerja kapal pesiar yang kembali menginfeksi pamannya. Sayangnya sebagian dari mereka yang kembali kurang disiplin menjalankan karantina diri. Akhirnya mereka sekarang secara otomatis ditahan di tempat karantina yang ditunjuk pada saat kedatangan.

Minggu lalu, jumlah resmi dari pekerja yang kembali  ke Bali disebut sekitar 6.500 dari 22.000 yang diketahui bekerja di luar negeri. Sudah jelas bahwa kita sudah melewati infeksi dari vektor perjalanan/kedatangan baru dan memasuki fase transmisi lokal sejak berapa minggu lalu. Transmisi lokal baru minggu ini resmi diakui oleh Satgas propinsi. Salah satu sumber terpercaya di sebuah desa memberitahu saya bahwa ada sejumlah kasus yang memiliki semua ciri khas covid-19 di desanya, dan ini sudah kejadian beberapa minggu lalu sejak pulangnya pekerja migran. Ini tentu saja anekdotal tetapi gejala yang dijelaskan sesuai dengan gejala covid-19. Bahkan kenalan lain saya di desa itu memang sakit dan menkarantina diri selama lebih dari 20 hari. Saya rasa  situasi seperti itu bisa saja terulang di tempat lain – namun karena ketakutan akan stigmatisasi berita tersebut ditutupi.

Sebaliknya beberapa banjar menanggapi dengan sangat serius: Br. Sumampan telah terkunci total selama berminggu-minggu, dan saat ini tidak pasti kapan berakhir. Boleh dikatakan bukan tanpa alasan : cukup banyak PMI yang kembali dari kapal pesiar di banjar ini. Tetapi beberapa tindakan tampaknya agak berlebihan, misalnya orang asing tidak diizinkan untuk meninggalkan tempat tinggal mereka dalam keadaan apa pun kecuali karena alasan kesehatan.

Ada berbagai interpretasi pedoman pemerintah untuk jarak sosial. Di daerah Canggu ekspatriat mengadakan pesta, di tempat lain orang-orang lokal berkumpul di tempat makan populer. Di sisi lain di beberapa banjar termasuk Nyuhkuning, Ubud, yang memiliki populasi pendatang dan asing besar, orang hanya diperbolehkan masuk berdasarkan kasus per kasus setelah diminta penjelasan di jalan masuk, dan tangannya dibersihkan dengan sanitizer.

Salah satu informan lokal saya yang akrab dengan satgas di Bali mengisyaratkan adanya semacam kesenjangan antara unsur DinKes dan satgas propinsi lainnya soal rilis data. Saya belum bisa memverifikasi hal ini dan masih ragu karena terkesan agak ekstrim. Namun jelas Dinkes di masing-masing kabupaten puya data yang lebih rinci ketimbang yang dirilis oleh Satgas, apapun motivasinya. Contohnya ada data OTG yg tidak muncul di rilis Satgas Propinsi.  Namun perlu dicatat bahwa hanya dalam beberapa hari terakhir ini data yang lebih rinci dirilis, sebagian konon karena arahan dari pemerintah pusat tentang rilis data, , dan untuk Denpasar konon karena permintaan walikotanya, Rai Mantra. Entah . Bahwa pengadaan data dan akses  data sulit  agak menakutkan, mengingat bahwa respons ilmiah yang efektif tentu didasarkan pada data yang dapat diandalkan.

Seorang pedagang nasi jenggo di Br Semampan pada jalan raya yg biasanya ramai. 

Pasar Sukawati tetap ramai tgl 18 April pagi.

Gubernur Bali didampingi Wagub (kiri) dan Kepala Satgas (kanan) mengumumkan tidak akan ada permintaan untuk PSBB.

Sementara itu pada tanggal 13 bulan ini, Gubernur Bali mengumumkan bahwa dia tidak akan meminta izin untuk PSBB di Bali “karena jumlah yang posiitif sangat rendah, dan transmisi lokal dapat diabaikan”. Kesan saya,  senyum beliau seolah menjawab desakan untuk PSBB. Dalam konteks ini, agak ironis bahwa dua hari kemudian ada sekelompok pria lokal di Candi Dasa yg rusuh memprotes sebuah hotel lokal digunakan sebagai fasilitas karantina untuk pekerja migran yang kembali.

Mengingat keadaan ini, dan fakta bahwa pandemi ini telah berulang kali mengikuti pola serupa hampir di mana-mana, di mana pada grafik tampaknya cukup datar sampai tiba-tiba ada lonjakan tajam, kita bisa berantisipasi situasi “santai-santai” berubah secara radikal pada saat tertentu. Jika modelling BIN dipakai acuan, ini bisa terjadi bulan Juni/Juli – sekitar waktu orang akan kembali bekerja setelah mudik. Sejauh ini proyeksi mereka untuk jumlah kasus pada akhir Maret sudah 99% akurat. Menariknya, laporan BIN mengatakan proyeksi mereka bisa lebih ‘ringan’ jika tindakan pencegahan yang memadai diterapkan.

Dalam sebagian besar skenario yang telah kita lihat di seluruh dunia, ketika jumlahnya melonjak, kematian kemudian mulai meningkat secara dramatis dan terus meningkat hingga mencapai puncaknya. Namun ini belum tentu skenario kiamat. Bisa saja hanya beberapa minggu kemudian. seperti yang ditunjukkan oleh Pemenang Nobel Michael Levitt, ketimbang prediksi beberapa berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Dia secara akurat  telah meramalkan berakhirnya wabah Cina, dan jumlah kematian. Saya kutip: “Levitt mengatakan data tidak mendukung skenario mengerikan – terutama di daerah di mana langkah-langkah social distancing  yang wajar diterapkan.”.

Lebih baik kita sadar akan realita  ketimbang berada dalam kegelapan, disengaja atau tidak.

 

 

Teks dan foto ©Rio Helmi kecuali foto Menko Luhut dan foto Gubernur Bali.

 

Silakan tinggalkan komen Anda di bawah.