Awal minggu ini Kadek Gunarta menyempatkan diri ngobrol sama teman lamanya, Rio Helmi, di Cafe Localista 

Rio Helmi : Saya melihat kamu sebagai generasi yang menjembatani Ubud zaman yang masih tradisional sekali ke zaman yg modern.

Kadek Gunarta : Itu bebannya banyak lho (ketawa)

RH     :    Kamu lahir di keluarga seniman-seniman yang tradisional – kenapa kamu sendiri tidak tertarik untuk berkarya seni?

KG     :    Saya sebenarnya dulu kan memang waktu kecil kan belajarnya ngelukis. Yah, di keluarga itu, kalau kita mengartikan seni kan tidak selalu harus berhubungan dengan lukisan, yah… segala macam.  Tapi kalau latar belakang keluarga saya itu, dibilang seniman, ya mungkin seniman – tapi lebih banyak ke social network …

RH     :    Mmm….. Itu kan konteks tradisional semua seniman zaman itu kan?

KG     :    Ya, iya tradisional. Kelab  (ayah buyut) saya, I Made Kari, beliau adalah pacek  (semacam abdi) Puri Peliatan di Padang Tegal,  ‘perbekel’nya Padang Tegal dulu. Fungsinya  bukan hanya sebagai seorang undagi (seniman, arsitek, tukang, sekaligus pakar budaya), atau seorang seniman yang membuat pengusungan mayat itu, tapi dia lebih banyak ke konteks pemberdayaan masyarakat. Ada leadershipnya, ada social worknya disana. Dari dia kemudian semua, kakek dgn semua saudaranya memang mengambil kegiatan sosial, serta  lebih menonjol disitu.          Di pihak keluarga Ibu saya, memang seni menonjol, tapi seni itu bagian kecil aja dari aktifitas keluarga besa – frameworknya justru sosial. Sehabis buyut  itu, kemudian ada kakek saya, dia mengambil seni topeng dan kekawin yaitu almarhum Pak Yan Padang. Kemudian ada Pekak Mangku yang di Pondok Pekak.. ya jurus tari, jurus spiritual diambil. (Kadek Gunarta kemudian menyebut beberapa keluarga lagi yang terlibat dunia seni).

RH     :    Tapi inti falsafahnya sosial?

KG     :    Iya sosial. Memang ‘stempel’ keluarga, yang sudah  menjadi trademark kita, tampang kita, udah kayak “pekerja sosial”. Dan seni kan hanya bagian kecil dari itu.

RH     :    Jadi kamu merasa, yang kamu lakukan sekarang dengan upaya-upaya komunitas yang kamu lakukan, sebetulnya senada dengan itu?

KG     :    Konsep saya dari awal, dengan apa yang kita lakukan kita tetap masih bisa  “giving back to the community”. Itu merupakan inti dari kehidupan sosial. Jadi apapun saya lakukan sekarang  dengan istri saya – ada yoga, festival, dll – unsur ‘giving back to the community’ tetap kita tonjolkan disitu.. Termasuk didalamnya kesadaran lingkungan,  membantu orang kampanye “say no to plastic” kita bantu, (Yayasan) Bumi Sehat kita bantu, Bali Green, kita lakukan. It’s ok to do the business, tapi the most important thing, how you use your business as a tool to give back to the community. Terserah lewat apa, karena kemampuan kita kan berbeda, jadi dengan frame itu, kita bisa merangkul seniman, social worker, environmentalist… Ya maunya sih seperti itu, tapi apakah sudah tercapai atau tidak, semuanya butuh proses

RH     :    Disamping menjembatani dari sisi temporal, kamu kan juga harus menjembatani aspek cultural juga? Antara lain dengan menikahi orang asing, Meghan. Apakah waktu itu, kamu bisa meramal perubahan gaya hidup kamu, sampai seperti ini? Waktu itu sudah menyadari itu akan terjadi atau sesuatu yang diluar dugaan?

KG     :    Kalau secara kasar, mungkin saya bisa membayangkan bahwa menikahi orang diluar budaya dan kultur yang berbeda adalah suatu lompatan yang besar, tapi kalau memikirkan secara detail seperti apa yang terjadi sekarang, saya tidak kebayang seperti itu, namun yang jelas akan adanya tantangan itu sudah saya bay

dek-goen-2angkan dari awal. Saya kan istilahnya ‘mengambil waris’, rumah yang saya tempati itu saudaranya nenek yang punya, tapi karena dia putung  (tidak punya keturunan), akhirnya saya kesana. Otomatis tanggung jawab sosial, adat, jatuh ke saya. Saya sudah bayangkan dari awal: saya punya istri orang bule, nanti ini akan jadi challenge ……

RH     :    Positifnya apa dari challenge itu?

KG     :    Ya kita bisa melihat hidup ini dari dua sisi yang berbeda, saya datang dari tradisionalnya, dia datang dari luarnya itu, dan kita kan bisa melihat, segi-segi positif dan negatifnya, pembelajarannya juga

RH     :    Kalau beratnya apa?

KG     :    Ya kalau beratnya, ya kulturnya orang bali,  kita kan nggak selalu diskusi….Hahahahahha [dua-dua tertawa] We just do whatever we wanna do, … Tapi, sering istri bilang “Dek, you need to talk more”. Terus saya bilang, kalau saya ngomong, yang denger siapa? Banyak.. banyak hal.. Tapi yang saya rasakan berat bukan dari istri, tapi justru dari anak,

dek-goen-3

RH     :    Oh ya?

KG     :    Iya anak, seperti kemarin waktu saya ajak anak mebayuh, upacara di griya. Kalau istri mungkin memiliki gambaran sedikit dari pengalamannya selama disini, jadi dia sudah bisa menganalisa permasalahan yang ada dengan pengetahuannya. Tapi kalau anak itu kan pure (murni suci), jadi saya harus mengisinya. Sementara dia kiblatnya kan dua: satu kaki di ibunya, satu kaki di saya. Kayak kemarin, anak yang kedua bilang “dad, I am so afraid to sleep in the night”, saya mau ngejelasin gimana? Saya mau jelasin dari unsur Bali saya, tapi ketika saya menjelaskan dari unsur Bali saya, apakah itu matching nggak dengan filisofi istri saya? BIsa diterima nggak? Justru anak itu juga menjadi tantangan, karena dia harus bisa mewadahi dua kultur yang berbeda, dan saya rasa hal itu merupakan hal yang harus dipikirkan secara detail….. biar fondasinya nggak salah.  Mungkin kemarin waktu anak saya bilang, “pak saya takut pak, takut tidur,” kenapa harus takut? Saya dididik dari awal, bahwa kita mempunya ‘saudara 4’ yang kami percaya, Kanda ‘Pat, jadi saya ajari dia tentang Kanda Empat. Akhirnya dia tau, “Pak kalau di depan ini Anggapati yang menjaga, kalau yang dibelakang ini Banaspati Raja menjaga, seperti barong ya pak”. Kalau malam saya menyuruh dia berdoa, dia malah ngajak saya tri sandhya setiap malam, sebelum tidur. Itu jadi kebiasaan, jadi challenge munculnya dari situ, menjelaskan hal gak hanya dari mitologi saja, dari ilmiahnya harus bisa dipertanggungjawabkan….

RH     :    Dan kamu merasa bahwa bagi dia nanti saat dia tumbuh dewasa hal itu nantinya masih akan mempunyai  makna yang dalam? Karena itu kan muatan dari kamu –  ataukah itu “hanyalah sesuatu yang pernah diceritakan oleh ayahku, saat aku masih kecil”?

KG     :    Saya kira apapun yang didapatkan oleh anak-anak, ketika dia masih blank paper  (lembaran kertas baru) semacam fondasi, hal itu akan terus tetap disitu…

RH     :    Apakah karena dia ada di Ubud, daya resapnya lebih kuat ? Andainya  kamu tinggal di Seattle atau di Washington?

KG     :    Lain…..lain, kalau lingkungan kultur kita di Bali kan seperti itu. Sebenarnya kalau kita jelaskan tentang budaya Bali di Seattle, susah kan kita cari ‘pendamping’, lingkungan yang mendukung secara nyata. Misalnya tentang barong: kenapa kita nggak boleh menebang pohon/hutan? Ya karena hutan itu kan tempatnya Banaspati Raja, karena itulah kita sayang pohon. Saya coba aktualisasikan dengan  “don’t cut the rain forest away”  tetapi secara religious itu ada metedologinya juga, dan Kanda ‘Pat itu juga bisa dihubungkan dengan hal ini,

RH     :    Seandainya kamu bisa pilih tempat tinggal untuk membesarkan anak di mana pun juga, kamu pilih di mana?

KG     :    Kalau saya jujur, lebih memilih di Bali.

RH     :    Di Ubud?

KG     :    Di Ubud, karena saya lahir di Ubud. Karena saya tahu valuenya …., positif dan negatifnya dari keberadaan saya pada waktu saya tumbuh. Saya lahir dari tradisi – banyak yang saya pelajari dari tradisi dulu, sekarang tidak aktual lagi.

RH     :    Kamu kan termasuk orang yang berani memelopori beberapa perubahan di daerah Ubud, di desa kamu sendiri, atau di banjar kamu sendiri. Apakah hal itu lebih mudah bagi kamu ketimbang bagi orang lain, karena pengalaman kamu hidup satu kaki didunia luar dan satu kaki di dunia dalam Bali? Apakah itu memungkinkan kamu lebih berani atau lebih PD?

KG     :    Ibaratnya kita membaca buku, membaca satu buku, dibandingkan dengan membaca dua buku, kita memiliki reference yang lebih, sama dengan pengalaman. Justru saat saya keluar bali, saya meihat sisi negatif bali, melihat bali dari jauh, kemudian ada pembanding ditempat yang baru, lalu berpikir: “Oh hal ini bagus lho untuk orang Bali, ini jelek untuk orang Bali, itu memberikan saya manfaat

 

RH     :    Apakah itu penting bagi orang Bali?

KG     :    Penting sekali

RH     :    Apakah kamu merasa, bahwa orang bali, termasuk orang di Ubud, sedikit narsis, dalam arti kata bahwa ada anggapan bahwa hanya apa yang mereka miliki yang terbaik?

KG     :    Itu pernah juga saya rasakan, dan bagi saya pribadi itu merupakan sebuah problem. Karena sebelum saya keluar, saya memang selalu menganggap Bali is the best, karena pengetahuan yang kita miliki hanya bahwa hidup ideal adalah disini. Kami tak pernah tahu, tidak punya pembanding, jadi waktu sebelum saya keluar negeri, saya rasakan, the reason why people come here, because there is a best thing about Bali, Ubud is the best, Bali is the best, tapi waktu kita keluar … Bali mebesbes  (Bali robek tercakar)….hahahahah

RH     :    Ada bahayanya? Maksud saya tentang sikap bahwa Bali is the best?

KG     :    Jelas. Jika kita selalu menganggap apa yang kita miliki the best, dan kita tidak pernah melihat bahwa Bali itu bopeng, kita kan nggak tahu tentang kerusakan yang ada di Bali

RH     :    Jadi nggak bisa diperbaiki?

KG     :    Kita harus keluar jika ingin menyaksikan apa yang ingin kita lihat, kalau cuma di Ubud terus  berpikir bahwa Ubud is the best, tapi kalau diluar mungkin orang melihat lain. Kadang-kadang kita berpikir, “wah ini sudah bagus, kenapa harus dirubah”. Kan banyak yang seperti itu, “…sudah bagus, jangan dirubah lagi”. Justru yang akan kita rubah itu, bukan hal yang  fundamental. Kayak produk, kemasannya yang dibuat menarik, kontennya ya konten orang bali

 

dek-goen-4

RH     :    Kamu mau hidup di luar Bali?

KG     :    Bukan  masalah mau atau tidak, kalau saya hidup di luar Bali, tidak bisa…

RH     :    Takdir?

KG     :    Bukan. Mungkin karena pola hidup saya di masyarakat. Saya merasakan bahwa saya bagian dari masyarakat yang sudah membesarkan saya dan di luar tidak saya ketemukan itu. Semua individual, kalau disini boleh dikatakan kan masih campuran, nuansa komunitasnya masih kental, familinya masih kental, ya mungkin karena saya hidup seperti itu dari awal, jadi agak susah bagi saya untuk meninggalkan ini,

RH     :    Yang paling berat bagi Ubud apa? Bukan hanya bagi kamu pribadi, tapi dalam konteks lebih luas: ekonomi? Sosial? Lingkungan?

 

KG     :    Komersialisme. Ubud ini kalau saya lihat ibarat sebuah bongkahan kue yang mengundang banyak orang.Diantara banyak orang ini kan, nantinya akan ada ketegangan: sosial politik, economic dsb. Sedangkan sebagai orang lokal kadang-kadang saya merasa masih banyak guidebook /informasi masih memakai image  Ubud tahun-tahun

dek-goen-5

lalu. Jadi orang melihatnya seperti itu, sedangkan kita yang berkutat disini menjadi daerah tujuan wisata, agak dipaksa

menjadi seperti image itu.

RH     :    Ya memang…itu dia marketing.

KG     :    Iyaa, nah sekarang banyak orang-orang kita pun mengangap ukuran kesejahteraan seseorang itu diukur dari sejumlah uang, jumlah aset yang dimiliki, sedangkan untuk memiliki hal itu, bisa dibayangkan berapa tahap-tahap yang harus dihadapi….

 

RH     :    Dan konyolnya, kita sendiri kadang terjebak dengan tolok ukur itu kan?

KG     :    Iya, sama aja, jika tatanan masyarakatnya keseluruhannya mentalnya seperti itu, dan dalam kapasitas kita masing-masing  sebagai individual, kita akan mudah terseret ke dalam sistem lingkaran/pusaran seperti itu

RH     :    Kalau kamu melihat demikian, apakah menurut kamu Ubud mampu menghadapi tantangan-tantangan modern hanya dengan menggunakan sumberdaya lokal, atau menurut kamu memerlukan pemikiran baru yang segar dari luar? Atau sejauh mana kalau orang luar itu bisa berkelanjutan dalam konteks lokal ini?

KG     :    Bisa dibilang kita berdiri, dalam kapasitas kita masing-masing ….Untungnya saya pernah berpijak, hidup dalam lingkungan bali tradisional, kemudian saya memiliki transisi karena saya memiliki istri orang asing, kemudian transisi lagi karena saya berkiprah dalam dunia pariwisata, dan saya melihat itu sebagai tantangan dan tanggung jawab yang harus saya pikul. Jika ada komunitas orang luar  Ubud yang ingin “berkontribusi” dalam hal usaha memajukan Ubud, kita harus bisa memberikan mereka framework yang benar, “ini lho yang harus anda lakukan kalau menurut orang Bali”. Mereka juga tidak bisa menjadi suatu komunitas yang begitu eksklusif, karena nanti mereka seolah-olah tidak akan memiliki grassroots.

RH     :    Tapi itukan secara idealistik ….dalam realita pastinya akan ada gesekan-gesekan…

KG     :    Ohh pasti

RH     :    Realitanya itu pastinya juga ada tantangan dalam mempertahankan identitas lokal, itu sumber daya lokal, tapi di lain pihak juga memerlukan suntikan ide-ide baru, apakah ide baru itu harus disalurkan melalui orang lokal? Sekarang kan banyak sekali ada lingkaran expat, ada ‘Hubud’ dan sebagainya … Mereka kan semua punya ide, mereka mau menyelamatkan Bali, tapi sebenarnya kalau kita melihat, mayoritas orang Bali yang sekian juta itu, nggak peduli apa yang dipikirkan oleh orang asing. Tapi itu bukan berarti, ide orang asing itu tidak valid kan? Di lain pihak, kadang-kadang, orang yang asing itu, kadang tidak punya pengertian tentang konteks local, dinamisme sosial setempat dan sebagainya. Jadi ini, deadlocknya gimana ini?

KG     :    Saya kemarin pernah bilang ke Dinas Prov Pariwisata Bali, ada satu hal kekuatan yang bisa kita manfaatkan, komunitas inilah, orang yang cinta Ubud, orang yang sudah tinggal demikian banyak, mau memberikan konstribusi kepada kemajuan Ubud dan  kebertahanan ubud kedepan, tetapi mungkin belum berdiri pada pijakan yang benar.

RH     :    Menurut kamu, apakah ada arogansi dalam hal tersebut? Mereka tidak berpijak,  tapi merasa akan melakukan sesuatu…

KG     :    Ndak, arogansi dalam hal apa? Saya justru melihat bukan dari arogansinya, saya melihat mereka mau melakukan sesuatu…tanpa mengetahui background yang cukup. Saya saja misalnya, klo saya disuruh masuk ke daerah lain, kayak kemarin disuruh buka usaha dengan teman, “kamu buka di Jakarta sajalah!”  Saya bukan orang Jakarta, saya nggak tahu culturenya, saya ga mungkin kesitu, untuk apa kesitu? Menurut saya, inilah yang harus benar-benar diperhatikan, seberapapun jumlah orang expat disini , komunitas luar Ubud yang tinggal di Ubud yang ingin berkonstribusi kepada Ubud dan masyarakatnya, tanpa ada hubungan dan manfaat langsung yang dirasakan oleh masyarakat lokal tidak akan bisa membumi. Mereka tetap akan menjadi suatu komunitas yang eksklusif, sementara disini, saya justru berpikir pinter-pinternya kita, bagaimana cara kita merangkul, kasihlah mereka porsi. Kalau mereka kuat di media, kasihlah mereka bahan yang benar untuk memediakannya, sehingga informasi yang keluar tidak salah. Saya sering bilang Ubud, jika kita bicara Ubud 20 /30 tahun lalu masih bisa terbilang punyanya orang Ubud.

RH     :    Saya tidak merasakan hal itu sekarang….

KG     :    Kalau  sekarang, siapapun di ubud, yang ingin melihat Ubud tetap bertahan, dia harus menjadi orang Ubud, dalam artian harus ikut memelihara, muara kita kan satu, kita semua ke Ubud mencari sesuatu yang kita anggap sebagai nilai plusnya Ubud.

bade--made-in-Pdng-Tegal

 “Bade” pelebon di Ubud tahun 1967 yang dibuat oleh para undagi Padang Tegal termasuk buyut Dek Gun. (foto dari arsip Kadek Gunarta)