teks dan foto oleh Rio Helmi

Lahir di Ubud pada tahun 1980, besar di Padang Tegal, Kadek Purnami mengaku ingatan yang masih jelas tentang masa kecilnya mulai sekitar usia 8 tahun. Kami ‘kopi-darat’ di galeriku di Ubud.

Rio Helmi: Apa ingatan Kadek tentang masa kecil?

Kadek Purnami: SD saya, kalau kita bicara dulu dan sekarang, adalah SD 1 Ubud, yang sekarang Kantor Camat. Saya tumbuh berkembang disitu, melihat bagaimana Jalan Raya Ubud dan Jalan Hanoman. Saya masih ingat di Jalan Hanoman itu masih ada ‘penggak’ (pasar kaget setiap pagi hari – Red). Orang belanja keperluan sehari-hari kesana. Mungkin kayak Indomaret dan Circle K-nya orang dulu disitu. Setiap tiga hari ada Pasar Ubud yang jatuh hari Pasah (salah satu hari pada kalender pawukon setiap tiga hari) jadi hari itu belanja pindah kesana. Waktu itu hanya beberapa toko di Ubud yang jualan beras, kaleng-kalengan.

RH: Jadi kamu masih ngalamin jaman itu?

KP: Iya. Kemudian satu lagi ingatan yang saya terkesan adalah sungai di Dewi Sita, sungai yang sekarang diapit oleh Batan Waru dan Bunute itu, itu adalah sungai untuk orang Ubud dan Padang Tegal untuk mandi, nyuci, apapun. Sore mereka kumpul disitu. Itu sungai cukup besar bagi kita waktu itu. Kemudian mereka juga cari air minum disitu – ada tempat yang ada tetesannya yg seperti bentuk batu. Tapi sekarang bagi saya itu sudah menjadi kayak selokan, kecil. Restoran pun sudah mulai menutupi.

RH: Kesimpulan kamu tentang perubahan-perubahan yang begitu berkesan?

KP: Lagi satu yang berkesan adalah Monkey Forest. Itu tempat saya bermain dulu. Sawah yang begitu luas, dan kami sangat takut sekali kesana kalau sudah sore karena angker. Orang pun tidak ada yang mau tinggal disitu waktu itu. Waktu kecil semakin berani kami ke selatan menuju Monkey Forest, itu kami semakin gagah. Tapi itu sekarang sudah habis menjadi hotel, restoran dan sebagainya. Habis.

RH: Jadi sebetulnya terjadi pergeseran nilai, bukan hanya perkembangan (biasa).

pasar-n-bintangKP: Ya sudah terjadi pergeseran nilai. Dan sekarang nilainya sudah tinggi (ketawa), sudah nilali nominal yang besar. Sekarang harga tanah disitu sangat mahal, padahal dulu orang menukar sawahnya dengan tempat yang lain. Itu semua mulai dari tahun 1990 ke atas.

Kemudian hal yang lain yang meresahkan bagi saya sebagai orang Ubud ketika Ubud menjadi (obyek) industri pariwisata dimana segalanya menjadi (unsur) turistik. Kami sebagai orang Ubud asli merasakan tidak ada lagi ruang publik. Yang ada cuman lapangan untuk tempat ramai-ramai tapi banyak tempat yang sudah tidak berfungsi lagi untuk tempat berkumpul, kongkow-kongkow. Warung sudah semakin habis oleh Circle K, Indomaret dan Alphamart. Jadi orang-orang tua yang dulunya masih ngewarung – beli kopi disitu, beli rokok katihan disana – bertemu dengan tetangga disitu dan terjadi sharing disitu. Bapak-bapak sharing entah masalah politik, entah keseharian mereka, itu terjadinya di warung.

 

RH: Dan ibu-ibu di pasar.

KP: Ya ibu-ibu di pasar. Kemarin saya sempat hitung-hitung ada dua puluh lebih mini market franchise di Ubud, itu sangat memotong sumber kehidupan warung-warung itu. Jadi orang sedikiti-sedikit belanja ke mini mart – dan menciptakan trend bagi anak muda bahwa itu tempat kongkow-kongkow. Mini mart juga memasang bangku, wifi dsb.

RH: Kenapa ya, padahal di luar Ubud di desa-desa sekarang ada tren ibu-ibu buka dagang-dagang kecil kayak pasar kaget kecil. Mereka taruh satu meja kecil penuh dengan sayur dsb hasil petani sekitar mereka dan jualan sama ibu rumah tangga yang berdekatan. Saya lihat itu sehat.

KP: Ya, sehat.

RH: Tapi kok di Ubud enggak jalan? Padahal gejala itu ada di desa yang sangat dekat dengan Ubud?

KP: Karena (di Ubud) mereka rata-rata bekerja di pariwisata.

RH: Jadi udah ‘pegawai minded”?

KP: Ya mereka bekerja sebagai waitress, room maid atau apa. Jadi ga tidak mengambil kerjaan lain seperti jualan rujak dsb, padahal orang masih menyenangi.

RH: Kalau dulu orang sempat menilai itu (jualan) sebagai pengangguran ‘part time’. Sekarang kembali ke apa yang Kadek kemukakan itu sebetulnya bagian dari kultur. Lalu bagaimana perasaan Kadek melihat perkembangan  itu?

KP: Menurut saya itu memang bagian dari kultur, tapi tidak semua (unsur) masyarakat melihat itu sebagai bagian dari kultur. Mungkin sebagian hanya melihat itu sebagai usaha bagi diri mereka sendiri. Ya bagi mereka (sekarang) minimal mau buka restoran umpamanya daripada jualan kecil-kecilan untuk masyarakat lokal. Karena mereka lebih memilih menjual kepada turis karena lebih menguntungkan.

 kadek-multiple

RH: Ok setting-annya sudah jelas. Ada pergeseran nilai, ada perubahan pola dan sebagainya. Sekarang kamu pribadi, Kadek Purnami, aktif menggalang kekuatan-kekuatan kultural yang terdapat pada para penulis. Ini kan menjadi “passion” kamu. Awalnya kenapa kamu bisa jatuh ke Ubud Writer’s Festival?

KP: Saya kuliah PR dan komunikasi di Yogya, di Atmajaya. Saya waktu pulang nyelutuk kepada ayahku: “Saya ingin bekerja tapi tidak hanya nyetak uang di suatu perusahaan, tapi saya ingin bekerja di suatu yayasan dimana saya bisa memberi sesuatu kepada orang lain.” Saya berpikir mungkin yayasan kecil yang bisa membuat klub baca untuk anak-anak, klub bahasa Inggris dsb – learning centre. Jadi aktivitas sosial. Saya sempat bekerja sebagai produser film selama satu tahun.

RH: Waktu itu merasa terpenuhi (cita-citanya)?

KP: Tidak. Saya merasa seperti mesin. Saya memang cinta broadcasting  tapi masih gimana… Lalu Ayah saya bilang: “Eh kamu menyumbangkan sesuatu dong untuk Ubud. Kamu kan sudah lama pergi. Lakukan sesuatu dong di Ubud untuk kesenian atau apa.”

Akhirnya mertua saya mempertemukan saya dengan Janet (De Neefe). Saya bekerja di tempatnya Janet. Saya diminta Pak Ketut Suardana (suami Janet) untuk jadi sekretaris Yayasan.

Saya waktu di Yogya terbiasa ngumpul dengan teman-teman membicarakan ide, kondisi, pergerakan mahasiswa dan sebagainya. Waktu saya pulang ke Ubud saya lonely – siapa yang harus saya ajak berbicara? Saya tidak menemukan teman disini. Akhirnya saya masuk ke Ubud Writer’s Festival menemukan teman yang bisa saya ajak diskusi. Awalnya saya masih jadi sukarelawan di UWRF tiga tahun. Yang membuat semua itu nyambung adalah karena saya memang belajar event organisation. Habis kerja saya sisihkan waktu sekitar 4 jam untuk UWRF sebagai volunteer. Akhirnya saya harus memilih, dan Janet tahun 2006 menawarkan posisi tetap di UWRF.

RH: Boleh dikatakan bahwa kamu di UWRF bukan sekedar mengerjakan agenda UWRF tapi juga menjadi pencetus jurusan baru, seperti halnya Emerging Writer’s – itu kan “your baby”. Saya ingin tahu ttg proses itu.

KP: Saya bekerja di suatu tempat itu selalu menganggap “inilah ibadah yang ingin saya jalankan”. Saya merasa tidak pintar di bidang adat, saya juga tidak mampu atau berguna dalam konteks masyarakat Bali (tradisional) walaupun tetap berusaha. Tapi saya berpikir, apa sih yang bisa saya berikan? Karena memang ‘passion’ saya ini, inilah yang bisa saya berikan. Saya senang bertemu dengan anak-anak muda yang kreatif, kemudian Janet memberi wadah. Ini karena meihat bahwa UWRF terkesan begitu ekslusif, di hadiri rata-rata oleh orang yang empat puluh ke atas, orang Australi dll yang ada di Ubud dsb, yang sudah bebas secara finansial.

Tapi bagi anak-anak muda 25 tahun kebawah tidak ada ruang (di UWRF), masih terkesan eklusif. Ada lapisan pertama, 50 tahun ke atas. Mereka generasi pertamanya. Lapisan kedua seusia antara 30-40. Jadi lapisan ketiga ini siapa yang akan membina mereka kalau mereka tidak diberi wadah? Saya melihat bahwa bila mereka tidak diberikan wadah tidak akan terjadi regenerasi. Tidak akan ada talenta-talenta muda yang muncul. Berangkat dari situ saya cari funding HIPOS (NGO yang berbasis di Belanda) untuk Bali Emerging Writer’s Festival.

Saya kemudian melihat bahwa banyak anak Bali yang hebat, bukan hanya dibidang sastra. Saya mulai menarik mereka yang dibidang fotografi, art, desain, musik. Saya rangkul mereka semua, mencari link-link yang bisa diciptakan. Saya menemukan dua anak muda yang sangat concern dengan bahasa Bali, bahkan novel pun mereka tulis dalam bahasa Bali – saya kaget.

RH: Dari aktivitas “Emerging” yang kamu lakukan apakah kamu melihat dari Ubud sendiri ada tunas-tunas yang bisa diharapkan?

KP: Saya rasa intinya jalur mereka lain. Sepintas lalu saya melihat bahwa mereka lebih banyak bergerak di bidang bisnis pariwisata. Memang fokus mereka bukan di kebudayaan. (Diantara teman-teman seangkatan) mungkin cuman saya aja yang bergerak di bidang ini. Saya mulai mengajak adik-adik dibawah generasi saya untuk paling tidak tahu: “ini lho bidang sastra, ini lho dunia kesenian yang lain”. Mereka memang sudah terarah sekali oleh orang tuanya yang rata-rata punya hotel dan sebagainya, anaknya sekolah training pariwisata. Anaknya sekolah di Singapore, pulang running hotelnya, restorannya.

RH: Ya sekarang Pariwisata kan menggantikan NIP – kalau dulu semua mau menjadi pegawai negeri, sekarang semua mau menjadi ‘pegawai pariwisata’.

KP: Betul. Tapi sayangnya selama ini masyakarat kita masih sebagian terbesar kelas menengah ke bawah. Jadi masih bermimpi menempatkan posisi sebagai GM dan sebagainya yang masih diisi oleh expat.

KP: Kembali dari semua masalah yang begitu pelik disini yang terjadi antara expat dan masyarakat, antara puri dan masyarakat, antar budaya dan bisnis, karena mereka belum settle secara ekonomis. Mereka kan masih lapar perutnya – berpikir “Giman gue cari duit? Ya udah deh, lakukan…” Kalau sudah mapan secara finansial baru bisa berpikir tentang hal hal seperti itu seperti seni dan budaya. Sementara masih struggle…

RH: Kamu sendiri seperti itu tapi kamu masih mau memikirikan budaya dan sebagainya?

KP: Ya memang dulu banyak orang bertanya: kamu volunteer, lalu makannya dari mana. Ya saya harus kesampingkan semua pikiran untuk bergaya kaya dsb demi itu. Ya kalau gaji saya 3 juta umpamanya ya saya hidup sesuai taraf orang yang bergaji sekian, saya harus menekan keinginan saya. Tidak memiliki gadget terkini atau apa.

RH: Ada orang yang memakai kata “idealis”. Saya tidak melihatnya sebagai idealis, malah praktis karena tidak ada cara lain. Karena kalau tidak dilakukan, kita menghabiskan semua waktu kita untuk kejar fulus, tidak ada waktu tersisa.

KP Ya emang komitmen, kan. Saya sudah 10 tahun melakukan. Saya ada juga rasa frustrasi, jenuh dsb. Contohnya ketika saya tidak dapat funding. Saya tur ke Karangasem, Tabanan – saya pulang dengan membahu beban yang berat karena melihat semangat anak muda itu, mereka ingin dapat wadah, menerbitkan buku dsb. Mereka bilang “Kak, tolong dong untuk tahun depan”. Saya pulang dengan beban di hati, apakah saya akan berhasil mendapat funding dengan melihat situasi ekonomi yang begini, tahun depan kan pemilu. Semua dana fokus ke pemilu nanti..

RH Tapi kan mending kamu gak punya dana tapi ada talenta, daripada punya dana tapi ga ada talenta (ketawa berdua)

KP: Ya kalau ada duit tapi tidak ada kemauan (susah). Kemarin saya termenung, kalau tidak saya mengambil pekerjaan ini ga ada lho yang mau ambil pekerjaan seperti ini. Kan ini semua karena talenta yang ada, bukan karena saya.

ed: English translation will follow soon