Rio Helmi, Ubud tgl 26 Desember 2017

Rahajeng Semeng. Hari Natal kemarin saya termenung mengingat semua kejadian selama 3 bulan terakhir di Pulau Dewata – gaduh dan galau berkisar status dan keadaan riil Gunung Agung. Jujur kata renungan saya campuran prihatin, kesal, kadang geli, dan juga terharu.

Saya prihatin melihat kondisi pengungsi: selama kegiatan saya sebagai bagian tim MAR (Mt Agung Relief) hampir tiap hari survey rute evak dan posko-posko, nyata sekali mereka dalam kegalauan yang berkepanjangan. Apa masa depan mereka? Kenapa mereka begitu ngotot kembali ke KRB 3,2,1? Tentu antara lain karena tidak bisa melihat potensi masa depan. Apa sih enaknya hidup dari bantuan orang kalau tidak bisa memeta masa depan? Mereka berterima kasih atas semua bantuan manusiawi, namun tetap bertanya: “Apakah saya seterusnya hanya hidup dari uluran tangan orang lain?” Sementara belum nampak upaya yang berarti dari pihak Pemda untuk menciptakan sistem rehabilitasi dan masa depan yang jelas. Semoga tidak diselesaikan dengan transmigrasi.

Saya kesal selama puluhan tahun tidak ada persiapan mitigasi bencana yang berarti. Bahkan tawaran untuk latihan mitigasi tahun 2014 masih ditolak. Bayangkan, kita hidup di bawah salah satu Gunung Api terdashyat di dunia dan tidak ada persiapan yang berarti? Inilah sebab reaksi kacau Pemda waktu Awas pertama akhirnya menimbulkan panik tak terkendali. Ditambah ketidakmampuan unsur pemerintah terkait untuk menyimak baik-baik rekomendasi PVMBG yang ilmiah dan jelas: ini adalah untuk daerah Karangasem sekitar kawah dalam radius tertentu, dengan catatan akan ada dampak sekunder terhadap Bali bagian lainnya, tergantung topografi. Malah menyikapi ilmu para volkanolog yang terpandang di dunia (ya, volkanolog Indonesia dianggap sebagai ‘barometer’ volkanologi internasional) dengan tuntutan aneh setelah panik amburadul dan anjloknya ekonomi pariwisata: “Semestinya meletus tgl 23 September” (sehari setelah status gunung api Agung dinyatakan Awas). Mungkin sudah terbiasa makan di MacDonald sehingga mengharapkan “order” disajikan seketika.

Status Awas 4 itu berdasarkan berbagai parameter ilmiah, tingginya probabilitas, dan keadaan kemampuan evakuasi penduduk. Saya berminggu-minggu melintasi hampir semua jalan, kecil atau besar, pada lereng dan sekitar gunung ini. Nyatanya hanya menemukan satu rute evak yang layak menurut syarat-syarat evakuasi. Yaitu dari Muncan ke selatan ke Br Sanggem ataupun Br Sangkan Gunung. Itupun jauh di hilir akhirnya harus melintasi Sungai (Tukad) Unda yang sudah sempat dilanda lahar hujan.  Jalur lainnya entah menyusur sungai berhulu langsung ke Gunung Agung (rute favorit awan panas yang berdampak ratusan meter kiri kanan) atau menyebrangi jembatan yang rentan terhadap aliran lahar hujan.

Saat minggu-minggu terakhir bulan November G Agung akhirnya erupsi secara efusif bahkan eksplosif pula (dengan VEI rendah tentunya, antara 1 dan 2) sambil melemparkan isi perut gunung setinggi ribuan meter, unsur pemda dan pariwisata minta supaya media jangan memakai istilah erupsi karena menakutkan. Media malah dimarahi. Lalu apa istilah yang kita pakai ketika sebuah gunung api memuntahkan isi perutnya setinggi 4,000 meter  (total 7000 meter diatas permukaan laut)? Maaf saya tidak akan share guyonan pedas di kalangan para wartawan tentang ini, tetapi komen-komen seperti tidak akan habisnya.

 Saat erupsi effusif beberapa waktu lalu. 

Konperensi pers di pos pemantauan G Agung di Rendang. foto©Ajat Hutdiyanto

Kemudian ada rasa geli dengan adanya para menteri, gubernur dan bupati mencak-mencak minta status Awas diturunkan. Apakah mereka tidak paham rekomendasi PVMBG yang begitu jelas tentang KRB dan luas wilayah terdampak dari awal? Akhirnya ada dagelan berasal dari pejabat tertentu berjudul “Gunung Agung status Awas, Bali status Waspada” – sejak kapan PVMBG membuat status volkanik untuk wilayah yang bukan gunung api? Puncaknya kemarin tgl 22 saat konperensi pers di pos pantau di Rendang dengan Menko Luhut, Menkeu Sri Mulyani, dan Gubernur BI Agus Martowardojo. Saat itu Menko sempat menjelaskan bahwa Bali Aman, hanya radius terdampak yang berbahaya. Maaf ini dari awal rekomendasi PVMBG status G Agung. Namun bulak balik jadinya, dari satu ekstrim (“Bali gawat”) ke ekstrim berikutnya “Bali (sama sekali) aman”. Kalau rasional kita katakan G Agung tetap kondisi Awas 4, dan kalau nanti terjadi erupsi eksplosif yang melempar abu, batu pijar dan materi lainnya setinggi 10km sampai 20km daerah terdampak langsung akan tentunya kena, namun wilayah lebih luas juga akan merasakan effek sekunder: abu, lahar hujan, dan bahkan awan panas (pyrochlastic flow).

Lebih lucu lagi saat Luhut ditanya wartawan bagaimana dengan aktifitas Galian C di kedalaman KRB 3 dan 2, beliau menandaskan yang penting semua persiapan untuk konperensi IMF tahun depan harus beres. “Underpass Ngurah Rai lancar, sudah 20%. Untuk itu kita perlu pasir. Tidak peduli pasirnya dari mana.” Apa beliau tidak sadar bahwa dengan adanya Galian C aktif dalam zona bahaya mengundang penduduk untuk kembali – setoran ke banjar-banjar setiap truk lumayan, dan yg mungut pasti perlu juga warung dsb yang menunjang. Belum lagi kemacetan yang sudah dialami waktu pengungsian pertama gara-gara truk pasir. Sempatkah mereka ngungsi nanti kalau terjadi erupsi eksplosif besar dimana ada waktu sekitar 10 menit untuk keluar dari zona KRB yang sangat bahaya? Apa lebih baik kita minta pasir semburan Gunung Agung kemarin langsung disalurkan oleh para dewa ke airport?

Catatan ketinggian asap Gunung Agung selama bulan November 2017. Sumber PVMBG

Menyimak statement lain, bahwa kali ini letusan tidak akan sebesar karena “hanya 54 tahun” semenjak erupsi terakhir, sedangkan sebelum tahun 1963  satu abad tidak meletus: maaf ini ‘pseudo science’. Tidak ada korelasi seperti itu. Beliau juga bilang bahwa nanti bau sampah di Suwung akan diselesaikan dalam waktu 10 bulan. Hore! Puluhan tahun ga bisa teratasi dan hutan bakau rusak sekarang akhirnya dengan mudah diselesaikan (semoga ga ditanam saja dan menyebabkan menyerapan limbah cair ke lingkungan malah lebih cepat). Belum lagi Airport yang sempat tertutup dua hari lebih (27&28, baru dibuka lagi tgl 29 November) rupanya menurut beliau hal mudah…. Kami tunggu buktinya.

Yang bikin lebih kesal  betapa motivasi semua perhatian beliau-beliau ini adalah untuk keamanan dan kenyamanan parisiwata dan suksesnya pertemuan IMF bulan Oktober nanti. Urusan 70,000 pengungsi seolah selesai dengan terpal, beras dan supermi. Bayangkan di beberapa posko bahkan pembagian beras saja ‘terpotong’ sekian persen. Saat pengungsi menerima beras Bulog setakaran satu gelas aqua per hari, masih ada yg sampai hati. Masalah mutu penampungan seolah sekunder, terpaksa pengungsi sendiri dan LSM yang perbaiki.

Ada juga membuat saya bertanya. Maaf, bukan masalah campur tangan ‘Nak Jawa’ dengan adat Bali, mohon dikoreksi kalau persepsi saya salah. Tapi setahu saya di Bali ada tiga tingkatan upacara: sederhana, menengah, dan mewah (nista, madya, utama). Selama dua puluh tahun pertama saya tinggal disini, kebanyakan orang merasa tak masalah kalau hanya menengah ataupun sederhana – yang penting “yadnya” itu adalah pengorbanan tulus. Lalu selama 20 tahun terakhir ini saya melihat perubahan drastis. Upacara adat seolah menjadi ajang pamer kekayaan – mewah, dan tanpa rasa prihatin bagi sesama umat yang miskin yang harus ikut mengeluarkan jumlah uang yang bagi mereka sangat besar. Bahkan kemarin saya dengar ada seorang ibu dari daerah lereng timur Gunung Agung yang mengharapkan anaknya jadi Kristen saja biar tidak hidup dengan beban upacara yang menekan. Di Denpasar ada seorang perempuan asal Jembrana yang sudah sakit parah masuk Kristen beberapa minggu sebelum meninggal dengan alasan tidak mau membebani keluarganya dengan ongkos ngaben yang berat dalam suasana zaman sekarang.

Benar sekali bahwa agama harus dijalankan oleh umat, tetapi apakah ketulusan itu dihitung dengan uang? Dan apakah tidak lebih menunjukkan iman bila uang yang sisa (karena upacara disederhanakan) dipakai untuk membantu saudara yang sedang diterpa nasib sial? Padahal sudah ada Sulinggih seperti Alm Pedanda Gede Ketut Sebali Tianyar yang telah jelas menyatakan bahwa yang penting asal ada unsur api, air dan bunga dalam jumlah apapun mencukupi. Atau pula Ida Pandita Empu Parama Dharma dari Banjar Lateng, Kintamani yang juga cenderung memuput upacara dengan sederhana dan biaya ringan bagi masyarakat. Dan ada contoh Sulinggih lainnya yang pendiriannya sama.

Lalu yang bikin terharu ada beberapa hal. Rasa persaudaraan masyarakat Bali pada awalnya, dropping logistik dan sebagainya. Sikap Dandim Karangasem (saat itu), Letkol Fierman Syafirial Agustus, yang menjabat sebagai Komandan Pos Komando Siaga Darurat di Tanah Ampo dan yang membuka pintu untuk kerjasama signifikan dengan LSM. Beliau mendukung berbagai upaya MAR (sosialisasi dan sebagainya) antara lain mendatangkan relawan gunung api Sukiman dari Merapi dan memberi green light untuk sosialisasi di Desa Pemuteran (Rendang) dan workshop di Tanah Ampo.

Eko Teguh Paripurno saat survey Gunung Agung. 

Suasana orientasi kemandirian evakuasi degan Pak Sukiman (berdiri di belakang) di desa Ban. 

Pengungsian di Desa Tembok: diharapkan jadi prototip kemandirian. 

Nyoman Summa Artha sedang memberi penjelasan kepada Ka-BNPB di Tembok. foto@BNPB

Kemudian dari awal dukungan informasi, petunjuk, dan koordinasi relawan gunung api dari Jawa yang diturunkan oleh Doktor Teguh Paripurno dari Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta. Relawan-relawan dari paguyuban di daerah gunung api masing-masing di Jawa ini (termasuk Sukiman lagi) yang di drop di desa-desa KRB Gunung Agung dan dengan murah hati membagi ilmu managemen mandiri tentang evakuasi dan pengaturan kehidupan di pengungsian. Setelah sosialisasi selesai terbentuklah Pasemetonan Jagabaya Gunung Agung (Pasebaya) yang diresmikan oleh BNPB. Dibekali ilmu yang mereka dapat Pasebaya rutin beberapa kali sehari memberi laporan via HT dan ORARI koordinasi dengan PVMBG membagi info terkini dan sangat berguna. Saya juga berterimakasih ke Mas Eko atas pencerahannya tentang syarat rute evakuasi (suatu saat ketika kami berdua keliling dia berulang kali bergumam “wah horror rute ini”).

Lalu inisiatif dari berbagai anggota koalisi MAR, termasuk proyek prototip habitat pengungsian alternatif di desa Tembok yang diprakarsai antara lain oleh Nyoman Summa Artha, arsitek I Gede Kresna dan Effan Adhiwara dengan dukungan Kepala Desa Pak Dewa. Tekanannya pada semangat komunitas. Tembok dipilih karena spirit kerjasama dan kemandirian pengungsi disana sangat bagus. Disana direncanakan ada juga pendidikan baca tulis bahasa Bali, dan aspek budaya lainnya Tidak lupa BNPB yang akhirnya mendukung bahkan ikut membiayai fase pertama, dan mereka pula telah mempresentasi proyek ini ke Presiden Jokowi.

Masih banyak pihak lain, asing maupun Indonesia, yang tidak bisa saya sebut satu per satu yang telah mendukung dan membantu para pegungsi. Para anggota SAR, Tagana, para expat yang rajin menggalang dana. Daftarnya panjang.

Tidak lupa juga para volkanalog di Pos Rendang yang piket 24 jam, yang begitu ramah terhadap media. Bahkan kami sering dibagi ilmu dalam kuliah informal di ruang tamu (yang mereka perbolehkan kami pakai sebagai penginapan, seringkali sepertinya suara kami ngorok bisa mengganggu seismograf!). Kejelasan pencerahan mereka – Pak Kasbani, Pak Gede Suantika, Bung Devy Kamil Syahbana antara lain – telah membuka mata kami. Persahabatan para ‘wartawan pos pantau’ yang begitu kental, saling bagi info, saling mendukung. Dedikasi mereka yang bisa sampai berhari-hari bahkan minggu nginap disitu sambil meliput daerah-daerah KRB dan posko pengungsian.

Oleh karena itu terus terang saya merasa tekanan yang kami di media ‘non-humas’ rasakan dengan segala tudingan ‘berita negatif’, termasuk oleh Menko Luhut yang bahkan menyatakan kami harus lebih ‘nasionalis’ adalah pelecehan. Memberitakan yang benar terjadi adalah anti-nasionalis? Paham apa itu? Justru kebenaran adalah dasar awal dari perbaikan yang berarti. Jangan samakan kami dengan tabloid Inggris yang beretika buruk. Sekarang terjadi tren yang sangat bahaya dimana berbagai unsur masyarakat seolah minta kita menutup lensa dengan gambar-gambar ala ‘promosi pariwisata’. Sedih pula melihat kurang pahamnya mereka.

Silahkan pariwisata promosi, silahkan IMF dikerjakan – tapi ingat Bapak-bapak dan ibu-ibu yang menjabat: lindungilah dan utamakan rakyatmu sendiri terlebih dahulu. Uang bukan Tuhan.

 

terima kasih kepada Raisa Andini dan Robinson Gamar untuk rekaman prescon di Rendang.

semua foto©Rio Helmi kecuali yg sudah diberi kredit foto tersendiri.