Wawancara dengan vulkanalog-seismolog/ahli mitigasi bencana PVMBG Devy Kamil Syahbana ini rampung beberapa menit sebelum letusan Gunung Agung pada malam hari tgl 10 Juni pukul 22:14

Rio Helmi: Baru ini Kementerian ESDM merilis Evaluasi Aktivitas Gunung Agung 1 Mei – 7 Juni 2018 berdasarkan laporan Bapak Ir Kasbani. Disamping laporan tentang erupsi terakhir (29 Mei 2018) dikatakan bahwa menurut aktivitas seismic masih ada pergerakan magma dari  kedalaman ke permukaan. Apakah dalam konteks kemungkinan erupsi yang besar dan eksplosif aktivitas ini signifikan?

Devy Kamil Syahbana: Dengan aktivitas Gunung Agung saat ini, erupsi masih memungkinkan terjadi. Tapi mempelajari data terkini, eksplosivitas erupsi kemungkinan masih rendah dimana potensi ancaman bahayanya masih ada di dalam radius 4 km. Bahaya erupsi yang mungkin terjadi adalah lontaran batu/lava pijar dan jatuhan pasir/abu. Sebaran abu mungkin bisa lebih dari 4 km dan sebarannya tergantung arah dan kecepatan angin. Potensi awan panas masih relatif rendah.

RH: Selama periode Desember 2017 hingga kini secara keseluruhan trend deformasi adalah deflasi atau ‘pengempisan’. Namun sejak minggu kedua Mei hingga kini Anda mengindikasi ada inflasi lagi berdasarkan data GPS dan Tiltometer, dan analisa data ini mengindikasi ada tekanan magma 3-4km dibawah puncak/kawah. Apakah ada perkiraan berapa volume magma yang terkumpul ini? Dan apakah volume magma dalam keadaan G Agung kini harus sebesar pada bulan November (saat itu berkisar 40an juta meter kubik) agar menghasilkan erupsi yang setara yang bulan November?

DKS: Untuk memicu erupsi setara November 2017 lalu, volume intrusi magma tidak harus sebesar September lalu yang mencapai 50 juta m3. Hal ini karena di kawah sudah ada 23 juta m3 lava yang bisa terlontar kalau intrusi di bawah permukaan cukup besar. Tapi berdasarkan pemodelan GPS terkini, volume intrusi magma saat ini masih di kisaran 1 juta m3. Ini volumenya kita nilai masih terlalu kecil untuk menghasilkan erupsi yang sebesar November lalu. Kita lihat perkembangan selanjutnya aja. Toh volume 1 juta m3 ini bisa saja dikeluarkan sedikit-sedikit  juga tidak harus langsung.

RH: Apakah ada perbedaan signifikan antara rekaman seismik di sekitar puncak Agung dengan yang lebih ke bawah? Dan bila ternyata ada, apa artinya?

DKS: Saat ini kegempaan ada yang memiliki konten frekuensi tinggi (‘brittle failure’ disebabkan pergerakan magma, sebagian terbesar dari sumber yang dalam) juga yang konten frekuensi rendah (gerakan magama cair dalam bentuk gas ataupun cairan, sebagian terbesar sumbernya dangkal). Dulu saat September-October kegempaan utamanya frekuensi tinggi karena sistem masih tertutup, butuh banyak peretakkan batuan dimana magma mencari jalan keluar ke permukaan. Saat ini jalan ke permukaan lebih lancar pasca erupsi, oleh karena itu kita sekarang lebih banyak melihat gempa dengan frekuensi rendah.

RH: Rekaman Geokimia kini menunjuk ada sekitar 200 ton gas SO2 yang terhembuskan dari kawah Agung setiap hari, indikasi masih ada pergerakan magma dari kedalaman naik ke kawah. Disamping bahaya erupsi, apakah gas ini bisa fatal bagi pendaki liar yg terbuai oleh “tenangnya” G Agung sekarang?

DKS: Magmatic gas Gunung Agung tentunya berbahaya bagi kesehatan. Mereka yang selamat hingga kini cuman beruntung saja (just lucky). Gunung Agung ketinggiannya 3000 m, angin besar, gas beracun cepat tercacah oleh angin. Tapi bayangkan kalau udara lembab, berawan, mereka yang di puncak bisa terkontaminasi gas beracun dan efeknya bisa membahayakan jiwa. Beberapa antara gas-gas magmatic seperti CO2 tidak tercium dan tidak berwarna namun berakibat fatal – kalau Anda menghirup terlalu banyak Anda akan mati! Pendaki liar itu seolah main “Russian Roulette” – baik karena gas maupun erupsi!

RH: Dalam laporan ESDM tersebut dikatakan bahwa rekaman hotspot oleh satelit menunjukkan lava panas dipermukaan, walau laju efusi magma kepermukaan tergolong rendah. Jelas bahwa tetap ada jalur magma keatas yang masih terbuka, walau tak terlalu besar. Bila satu saat nanti ada intrusi magma baru dalam jumlah besar masuk ke ruang-ruang dibawah Agung, apakah jalur-jalur ini cukup untuk melepaskan tekanan gas dari magma tersebut atau akhirnya akan mendobrak ‘kerak’ /crust kawah yang sudah mengeras sehingga terjadi erupsi eksplosif?

DKS: Bila cukup enersinya, ya itu mungkin. Ada skenario selain penuhnya kawah oleh lava, yaitu didobraknya lava pancake saat ini oleh tekanan dari bawah. Kita tidak bisa tau persis kapan, namun itu bisa terjadi kalau ada cukup banyak tekanan terakumulasi dibawah kawah. Sementara ini kemungkinan itu terjadi masih rendah. Namun kami perkirakan terjadi erupsi-erupsi kecil.

RH: Mengingat bahwa siklus erupsi G Agung di masa lalu seringkali bersifat maraton panjang, menurut perkiraan Anda apakah erupsi VEI 5 sudah tidak mungkin lagi dalam siklus yang sekarang ini?

DKS: Kalau dengan data saat ini, impossible untuk menghasilkan VEI 5. VEI 5 membutuhkan energi yang besar. Tapi siklus ini belum berakhir betul, data masih bisa berubah, jadi kita ngga bisa meramalkan. Kita monitor terus kok datanya, kalau ada sesuatu yang berubah, kita pasti akan kabari.

RH: Sumber primer magma bagi Agung dan Batur satu, namun tentu jalur dan ruang “chamber” beda. Bahkan dulu Bukit Paon di Bebandem punya cabang jalur Agung yang menyebabkannya ikut meletus. Apakah Anda bisa melihat skenario kali ini bahwa Batur dan Bukit Paon ikut meletus?

DKS: Untuk Paon kemungkinannya untuk meletus kembali saat ini sangat kecil, Paon ini Kerucut Parasit yang terbentuk akibat erupsi besar di masa lalu. Jalur magma ke permukaan sudah depleted dan tidak lagi aktif. Untuk Batur, bisa saja nanti erupsi tapi tidak berhubungan secara langsung dengan aktivitas Gunung Agung, tapi karena sumber magmatismenya sama, maka intrusi ke Agung tahun lalu bisa saja juga terjadi ke Gunung Batur, tapi data hingga saat ini belum menunjukkan itu. Kita pernah ukur gas di Kawah Batur dan hasilnya menunjukkan bahwa intrusi magma baru masih negatif.

RH: Menurut perkiraan Anda, apa yang menjadi kendala terbesar bagi mitigasi bencana Gunung Agung?

DKS: Antara lain kurang kesiapsiagaan. Erupsi Gunung Agung selalu meninggalkan jejak kemana bahayanya dulu mengarah, seperti jejak awan panas, guguran/aliran lava, dll. Semua itu tertuang di Peta Kawasan Rawan Bencana Erupsi Gunung Agung. Jadi yang Merah dan Kuning itu adalah kawasan yang dulu pernah terlanda erupsi Gunung Agung baik berupa bahaya primer (lontaran batu/lava pijar, awan panas, dll) maupun bahaya sekunder (lahar). Saat ini wilayah bahaya ini tidak steril dari aktivitas dan pemukiman penduduk. Artinya, mengingat potensi erupsi Gunung Agung dalam sejarahnya, akan selalu ada risiko bencana. Jika merelokasi adalah pilihan yang sulit dilakukan, maka satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah dengan terus melakukan penguatan kapasitas kesiapsiagaan seluruh pihak. Sehingga tidak ada lagi kesulitan evakuasi, tidak ada lagi kepanikan apalagi ketidaktahuan. Ini menjadi tugas kita semua, kita harus maraton dan spartan melakukan penguatan kapasitas masyarakat di sekitar Gunung Agung.

RH: Pak Devy, terima kasih banyak waktu dan jawabannya!

Devy Kamil Syahbana di pos pantau Rendang